PENERAPAN BUDAYA LITERASI PADA ANAK DISLEKSIA MELALUI PEMBUATAN PUISI GUNA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS UNTUK KELAS V DI SDN PERCOBAAN GEDANGAN
Disusun Oleh :
Indah Kulbirodiyah 15010044028
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
Latar belakang
Budaya literasi di Indonesia sedang menjadi persoalan yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Mengingat budaya literasi di Indonesia yang terhitung cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. Ditengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, membuat buku tidak lagi menjadi prioritas utama di kalangan masyarakat, terutama siswa berkebutuhan khusus ataupun normal di sekolah – sekolah yang ada di Indonesia. Karena, mereka sudah terbiasa dengan budaya Indonesia berupa budaya komunikasi atau budaya tutur. Sehingga, mereka cenderung malas untuk membaca.
Literasi sendiri secara sederhana diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, literasi mempunyai arti kemampuan memperoleh informasi dan menggunakannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menurut Kern (2000), literasi adalah penggunaan praktik – praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasi makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan – hubungan antara konvensi – konvensi tekstual dan konteks penggunaannya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan – hubungan itu. Karena peka dengan maksud atau tujuan literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultus di kursus atau wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang jenis, dan pengetahuan kultural. Anak berkebutuhan khusus terutama anak kesulitan belajar memiliki kepekaan yang cukup rendah terhadap kata – kata. Terlebih lagi anak disleksia yang memang pada umumnya kesulitan dalam hal membaca.
Budaya membaca dan menulis pada masyarakat Indonesia di zaman millenial ini cukup memperhatikan. Ketika pada zaman dahulu, buku – buku pelajaran menjadi teman setia pada saat pembelajaran, sekarang budaya membaca dan menulis itu sudah mulai luntur. Hal itu disebabkan karena minat baca yang rendah. Selain itu, adanya teknologi informasi dan komuniasi yang canggih, tidak serta merta membuat anak – anak menggunakannya untuk mencari informasi yang bermanfaat, namun disalahgunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Sebagai contoh adalah untuk membuat status di media sosial yang tidak sesuai dengan usianya.
Pada umumnya, literasi dibagi menjadi lima jenis, yaitu: literasi dasar (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi visual (visual literacy). Literasi dasar digunakan untuk mengotimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Literasi perpustakaan bertujuan untuk mengoptimalkan literasi perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman perihal eksistensi perpustakaan yang juga merupakan salah satu tempat mendapatkan informasi. Literasi media yaitu, kemampuan untuk mengetahui banyak sekali bentuk media yang berbeda, menyerupai media cetak, media elektronik, media digital, dan memahami tujuan penggunaannya. Literasi teknologi yaitu, kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi menyerupai peranti keras, peranti lunak, serta budi pekerti dan etika dalam memanfaatkan teknologi. Literasi visual, yakni pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan litersi teknologi, yang menyebarkan kemampuan dan kebutuhan berguru dengan memanfaatkan materi visual dan audio – visual secara kritis dan bermartabat.
Literasi dasar sebagai pedoman awal dari semua literasi pada dasarnya harus dikuasai oleh semua anak normal ataupun berkebutuhan khusus, tidak terkecuali berkesulitan belajar.