PENGGUNAAN
METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS ANAK DISGRAFIA KELAS V
DI SDN PERCOBAAN GEDANGAN
Disusun Oleh :
Indah Kulbirodiyah 15010044028
PENDIDIKAN
LUAR BIASA
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
11.1 Latar
belakang
Dalam pendidikan, sudah sewajarnya seorang Guru
mengharapkan siswanya dapat mencapai hasil maksimal pada proses pembelajaran.
Namun, pada kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai hasil yang masksimal
seperti yang diharapkan. Besar kemungkinan siswa mengalami kesulitan belajar,
sehingga siswa tidak dapat mencapai prestasi sesuai yang telah ditargetkan.
Kesulitan belajar
adalah suatu masalah neurologis pada otak yang mempengaruhi cara seseorang
dalam mengambil, menyimpan ataupun menggunaan informasi. Kesulitan belajar
merujuk pada salah satu kondisi yang mempengaruhi kekuatan dalam penerimaan,
pengorganisasian, peneriaan, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau
nonverbal. Kesulitan belajar merupakan akibat dari melemahnya satu atau
beberapa proses yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat ataupun
belajar. Seperti halnya proses berbahasa, proses fonologi, proses pengamatan,
proses kecepatan, mengingat, perhatian dan fungsi eksekutif.(diambil oleh Kementerian
Pendidikan pada tahun
2002,
disesuikan dengan definisi yang diambil oleh Disabilities
Association of Canada and the BC Association of School Psychologists).
Rumini dkk (Irham dan Wiyani, 2013:254) mengemukakan
bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat siswa mengalami hambatan –
hambatan tertentu untuk mengikuti proses pembelajaran dan mencapai hasil
belajar secara optimal.
Sedangkan menurut
Bauer, Keefe, and Shea (dalam Djaja & Sujarwanto,
2010: 77) menyebutkan bahwa “kesulitan belajar
merupakan peristilahan yang dipergunakan pada siswa-siswa
yang mempunyai kesulitan tidak dapat mengikuti
kegiatan belajar mengajar disebabkan karena kurangnya
inteligensi, kelainan sensoris, ketidak beruntungan
atau ketidak cukupan budaya atau bahasa”.
Menurut Grossman (dalam Purwanti, 2008 : 4) kesulitan belajar adalah suatu kondisi
dimana prestasi tidak
tercapai sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Senada dengan hal tersebut,
Sugihartono, dkk. (2007:149)
menjelaskan bahwa kesulitan belajar adalah
suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai
dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau di
bawah norma yang telah ditetapkan.
Menurut Blassic dan
Jones (Irham dan Wiyani, 2013:253), kesulitan belajar yang dialami siswa
menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang
diharapkan dengan prestasi akademi yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya
(prestasi aktual).
Dari beberapa
pendapat ahli tersebut, dapat disimpulan bahwa kesulitan belajar adalah suatu
kondisi dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar sehingga
menyebabkan siswa tidak bisa mencpai prestasi belajar yang telah di targetkan.
Secara garis besar
kesulitan belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok (Abdurrahman,
2003:11), yaitu:
1.
Kesulitan
belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning
disabilities) yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan
komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
2.
Kesulitan
belajar akademik (academic learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang
mencakup adanya kegagalan – kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai
dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan – kegagalan tersebut mencakup
penguasaan keterampilan dalam membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau
matematika (diskalkulia).
Dysgraphia
berasal dari kata Yunani. Arti kata tersebut mengacu pada fungsi tangan yang
digunakan menulis dan huruf – huruf yang dibentuk oleh tangan. Gejala awalnya
adalah terjadi penurunan nilai pada anak yang mengacu pada kesalahan pada
pembentukan huruf dengan tangan.
Dengan
demikian, disgrafia adalah kondisi dimana terjadi gangguan pada tangan yang
menyebabkan tulisan huruf menjadi buruk. Disgrafia dapat menghambat anak dalam belajar
mengeja kata – kata secara tertulis dan kecepatan menulis teks. Anak – anak
dengan disgrafia hanya mengalai gangguan dalam tulisan tangan dan ejaan, tanpa
masalah membaca.
Menurut
Djaja (2010 : 78) disgrafia
adalah
kesulitan belajar yang berkaitan dengan masalah
menulis. Kelainan ini diketahui secara mendasar dari
perbedaan nilai antara nilai anak yang tinggi pada tes inteligensi dan nilai yang rendah pada
nilai tes yang diperoleh dari
menulis. Mulyono (2002 : 228) mengemukakan
bahwa disgrafia adalah kesulitan belajar dalam
hal menulis.
Seseorang dapat mengalami kesulitan belajar menulis
(disgrafia) karena beberapa sebab. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ronald
D. Davis dalam bukunya “ The Gift Of Learning” (2003), yang menyatakan bahwa
ada tujuh penyebab anak mengalami kesulitan belajar menulis, yaitu : kerusakan
otak, cacat fisik, sengaja tidak belajar tulis menulis, disorientasi, tidak
memahami instruksi, memiliki gambaran mental ganda, tidak cukup memiliki
orientasi alam.
Beberapa individu dengan disgrafia mengalami kesulitan
pada koordinasi motorik halus, namun ada pula yang fisiknya bergetar sehingga
menciptakan tulisan yang buruk. Banyak ahli percaya bahwa “disgrafia melibatkan
disfungsi dalam interaksi antara dua sistem otak utama yang memungkinkan
seseorang kesulitan dalam menerjemahkan kata – kata ke bahasa tertulis”. Dari
pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa insividu menggunakan suara untuk
mengingat sesuatu.(Deuel, 2011)
5 – 20% siswa mengalami kesulitan belajar
menulis.(Reynold, 2007). Studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 yang
membahas tingkat prevalensi disgrafia di sekolah dasar mulai dari 5 – 33%.
Dikatakan bahwa gangguan menulis menurun seiring dengan bertambahnya usia
siswa. diperkirakan pada awal kelas dua, 37% siswa mengalami disgrafia, dan
semakin menurun menjadi 17% pada akhir tahun.(Overveide, 2011)
Menulis merupakan suatu sarana berkomunikasi atau
penyapaian pesan kepada orang lain secara tertulis yang diwujudkan dalam bentuk
rangkaian lambang atau simbol grafis yang dapat dimengerti oleh penulis dan
dipahami oleh orang lain yang membacanya.
Menurut Imron Rosidi (2014:3) menulis adalah salah satu
bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membantu orang lain (pembaca)
berpikir.
Menurut St. Kartono (2013:17) menulis adalah proses
menuangkan pikiran dan menyampaikannya pada khalayak.
H.G. Tarigan dalam Saddhono dan Slamet (2014:154)
mengungkapkan bahwa menulis pada hakikatnya ialah melukiskan lambang – lambang
grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca
orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang – lambang grafis tersebut.
Sedangkan menurut Natalie Golberg dalam Naning Pranoto
(2015:21) mengemukakan bahwa menulis adalah komunikasi dengan diri sendiri,
diolah dengan rasa dan dikendalikan oleh pikiran.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
menulis adalah proses menuangkan pikiran berupa simbol – simbol yang digunakan
untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Pada hakikatnya kemampuan menulis sangatlah penting.
Karena menulis digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Selain itu, dalam bidang akademik, semua mata pelajaran menggunakan
keterampilan menulis.
Anak – anak disgrafia tidak hanya mengalami gangguan
dalam hal menulis, beberapa dari mereka juga memiliki gangguan attention deficit and hyperactive disorder
(ADHD). Anak – anak dengan disgrafia dapat merespon kombinasi instruksi yang
berkaitan dengan tulisan tangan jika instruksi yang diberikan jelas dan
disertai dengan rangsangan. Namun, jika anak disgrafia disertai dengan
diagnosis ADHD maka, harus dilakukan dengan pemantauan dan pengobatan orang
profesional yang berkaitan dengan respon anak terhadap instruksi yang bersifat
kombinasi.
Disgrafia dapat berdiri sendiri, atau dapat juga disertai
dengan disleksia (gangguan kemampuan membaca) atau dengan gangguan belajar
bahasa oral dan menulis (Oral and Written
Language Disability (OWWL LD)) atau biasa disebut juga dengan gangguan
pemilihan kata dalam berbahasa (Selective
Leanguage Impairment (SLI)) .
Disleksia adalah kelainan yang mencakup pada membaca
kata, penguraian kata, kelancaran membaca secara lisan, dan mengeja. Anak –
anak dengan disleksia mengalami gangguan ortografi dan penguraian fonologi,
menamai secara cepat dan fokus, mudah teralihkan atau kesulitan dalam
berkonsentrasi dalam jangka waktu yang cukup lama.
Sedangkan Oral and
Written Language Learning Disability (OWL LD) atau Selective Language Impaiment (SLI) adalah gangguan dalam berbahasa
(memahami makna dari kata dan tata bahasa; mengekspresikan kata dan memahami
fungsi dari kata; menememukan kata dalam memori; dan membuat kesimpulan dari
teks). Kelainan ini mempengaruhi bahasa lisan dan tulisan. Anak – anak dengan
gangguan bahasa akan mengalami gangguan tulisan dan membaca secara bersamaan.
Abdurahman
(2003:223) menjelaskan bahwa kegunaan
kemampuan menulis bagi para siswa adalah untuk
menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa
memiliki kemampuan untuk menulis,
siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan
ketiga jenis tugas tersebut. Sehingga, sangat penting untuk dilakukan terapi untuk meningkatkan kemampuan anak
disgrafia dalam menulis agar anak dapat mencapai prestasi sesuai dengan target.
Untuk meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia
tidaklah mudah. Guru harus memilih metode dan media yang sesuai dan menarik
bagi anak, yang tidak membuat anak tertekan ataupun merasa bosan. Untuk itu,
peneliti memilih metode multisensori yang memanfaatkan semua indera yang
dimiliki untuk belajar. Metode ini tidak hanya membuat anak tertarik, tetapi
juga membuat anak lebih mudah mengingat dan cepat mengerti serta memahami
tulisan dan huruf.
Dalam catatan sejarah panjang pendidikan dinyatakaan bahwa
pengalaman belajar yang didapat melalui semua indera sangat membantu dalam
memperkuat ingatan. Dari panduan belajar (Montessori, 1912), menyatakan bahwa
para pendidik telah mencoba menggunakan teknik multisensori untuk membuat
pembelajaran lebih kreatif dan dapat lebih memotivasi peserrta didik. Istilah
multisensori digunakan dalam aktivitas belajar yang menggabungkan dua atau
lebih strategi sensori dalam penyampaian materi pembelajaran.
Departement for Education and Skills (DfES) (2004) mendefinisikan
multisensori sebagai : penggunaan modalitas visual, audiotori, dan kinestetik
secara bersamaan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Single
Subject Research (SSR) pada satu anak disgrafia kelas V di SDN Percobaan
Gedangan melalui pendekatan kuantitatif. Penelitian ini akan dilakukan dengan
observasi, tes, dan wawancara.
1. Seberapa tinggi efektivitas penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia ?
2. Bagaimana pengaruh penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan?
3. Apa kendala penerapan metode multisensori dalam pembelajaran menulias anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan? .
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui tingkat efekstifitas penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia.
2. Untuk
mengetahui pengaruh penerapan metode multisensori
dalam meningkatkan kemampuan anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan.
3. Untuk
mengetahui kendala penerapan metode multisensori
dalam pembelajaran menulias anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian
Teori
Kemampuan
setiap orang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran adalah
sesuatu yang biasa jika ada seorang atau beberapa anak yang mengalami kesulitan
belajar. Kesulitan belajar tersebut yang menyebabkan terhambatnya prestasi dari
anak.
Kesulitan
belajar adalah suatu masalah neurologis pada otak yang mempengaruhi cara
seseorang dalam mengambil, menyimpan ataupun menggunaan informasi. Kesulitan
belajar merujuk pada salah satu kondisi yang mempengaruhi kekuatan dalam
penerimaan, pengorganisasian, peneriaan, pemahaman atau penggunaan informasi
verbal atau nonverbal. Kesulitan belajar merupakan akibat dari melemahnya satu
atau beberapa proses yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat
ataupun belajar. Seperti halnya proses berbahasa, proses fonologi, proses
pengamatan, proses kecepatan, mengingat, perhatian dan fungsi
eksekutif.(diambil oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2002, disesuikan dengan definisi yang diambil oleh Disabilities
Association of Canada and the BC Association of School Psychologists).
Rumini dkk
(Irham dan Wiyani, 2013:254) mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan
kondisi saat siswa mengalami hambatan – hambatan tertentu untuk mengikuti
proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar secara optimal.
Sedangkan menurut Bauer, Keefe, and Shea
(dalam Djaja & Sujarwanto,
2010: 77) menyebutkan bahwa “kesulitan belajar
merupakan peristilahan yang dipergunakan pada siswa-siswa
yang mempunyai kesulitan tidak dapat mengikuti
kegiatan belajar mengajar disebabkan karena kurangnya
inteligensi, kelainan sensoris, ketidak beruntungan
atau ketidak cukupan budaya atau bahasa”.
Menurut Blassic dan Jones (Irham dan Wiyani, 2013:253),
kesulitan belajar yang dialami siswa menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak
antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademi yang dicapai
oleh siswa pada kenyataannya (prestasi aktual).
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulan
bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana siswa mengalami hambatan
dalam proses belajar sehingga menyebabkan siswa tidak bisa mencpai prestasi
belajar yang telah di targetkan.
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan
kedalam dua kelompok (Abdurrahman, 2003:11), yaitu:
3.
Kesulitan
belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning
disabilities) yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan
komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
4.
Kesulitan
belajar akademik (academic learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang
mencakup adanya kegagalan – kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai
dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan – kegagalan tersebut mencakup
penguasaan keterampilan dalam membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau
matematika (diskalkulia).
Menurut
Djaja (2010 : 78) disgrafia
adalah
kesulitan belajar yang berkaitan dengan masalah
menulis. Kelainan ini diketahui secara mendasar dari
perbedaan nilai antara nilai anak yang tinggi pada tes inteligensi dan nilai yang rendah pada
nilai tes yang diperoleh dari
menulis.
Seseorang dapat mengalami kesulitan belajar menulis
(disgrafia) karena beberapa sebab. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ronald
D. Davis dalam bukunya “ The Gift Of Learning” (2003), yang menyatakan bahwa
ada tujuh penyebab anak mengalami kesulitan belajar menulis, yaitu : kerusakan
otak, cacat fisik, sengaja tidak belajar tulis menulis, disorientasi, tidak
memahami instruksi, memiliki gambaran mental ganda, tidak cukup memiliki
orientasi alam.
Beberapa individu dengan disgrafia mengalami kesulitan
pada koordinasi motorik halus, namun ada pula yang fisiknya bergetar sehingga
menciptakan tulisan yang buruk. Banyak ahli percaya bahwa “disgrafia melibatkan
disfungsi dalam interaksi antara dua sistem otak utama yang memungkinkan
seseorang kesulitan dalam menerjemahkan kata – kata ke bahasa tertulis”. Dari
pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa insividu menggunakan suara untuk
mengingat sesuatu.(Deuel, 2011)
5 – 20% siswa mengalami kesulitan belajar
menulis.(Reynold, 2007). Studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 yang
membahas tingkat prevalensi disgrafia di sekolah dasar mulai dari 5 – 33%.
Dikatakan bahwa gangguan menulis menurun seiring dengan bertambahnya usia
siswa. diperkirakan pada awal kelas dua, 37% siswa mengalami disgrafia, dan
semakin menurun menjadi 17% pada akhir tahun.(Overveide, 2011)
Seorang
siswa dengan gangguan menulis mungkin mengalami beberapa kesulitan berikut :
1)
Penulisan
yang tidak konsisten dan terkadang tidak terbaca; mis., mencampur huruf huruf
besar dan kecil, ukuran tidak teratur, bentuk atau kemiringan huruf
2) Posisi tulisan atau huruf tidak konsisten tidak sesuai garis pada halaman
3) Kata
atau kalimat
yang belum selesai, beberapa
huruf atau kata hilang dan terjadi banyak kesalahan ejaan
4) Kesulitan
motorik halus, seperti ketidakmampuan meniru dan mengingat pola bentuk huruf
5) Kecepatan
penulisan yang tidak konsisten, kadang
terlalu
cepat
6) Tingkat kemampuan menulis dan komunikasi tidak sama
dengan tingkat kemampuan siswa lainnya.
7) Genggaman
terlalu kuat ketika menulis, posisi
pergelangan tangan,badan
atau kertas yang tidak biasa
8) Rasa
sakit atau kejang otot saat menulis
9) Berbicara
kepada diri sendiri saat
menulis, atau dengan hati-hati melihat tangan saat menulis.
10) Melakukan penolakan saat diminta
menyelesaikan tugas tertulis.
Berdasarkan ciri – ciri diatas disgrafia dibagi menjadi 5
tipe (Solusi Gangguan Tulisan-Dysgraphia,2015), yaitu :
a. Dyslexia
Dysgraphia
Siswa
dengan dyslexia dysgraphia secara
tidak langsung memiliki tulisan yang tidak terbaca, namun hasil pekerjaan
mereka yang disalin masih dapat dibaca. Siswa dengan dyslexia dysgraphia memiliki kemampuan mengeja yang buruk. Mereka
lambat dalam menulis.
b. Motor
Dysgraphia
Motor dysgraphia terjadi karena keterampilan motorik halus yang buruk,
tidak cekatan, otot yang lemah, atau kejanggalan yang tidak ditentukan. Hasil
pekerjaan menulis seringkali berantakan, tidak terbaca, baik yang telah disalin
ataupun yang asli. Perbaikan dapat dilakukan melalui usaha yang lebih keras dan
lama. Genggaman yang terlalu kuat pada alat tulis, menghasilkan tulisan yang
miring, namun ejaan tidak terganggu. Kecepatan dalam menulis juga rendah.
c. Spatial
Dysgraphia
Disgrafia
spasial terjadi karena siswa tidak mengerti tentang spasi (jarak tulisan).
Tulisan terkadang tidak terbaca baik setelah disalin atau asli, tetapi cara
memegang alat tulis dan ejaan tidak terganggu. Siswa dengan disgrafia spasial
harus berjuang keras untuk menulis dengan jarak antar kata dan tidak melewati
batas garis.
d. Phonological
Dysgraphia
Disgrafia
fonologi adalah gangguan menulis ejaan yang buruk dan berantakan. Fonem tidak
dapat dihafalkan, hal tersebut menjadi kendala terbesar bagi anak dengan
disgrafia fonologi.
e. Lexical
Dysgraphia
Karakteristik
dari disgrafia lexical adalah gangguan pada ejaan normal pada pola tertentu
yang hasilnya tidak teratur. Hal ini terjadi paling umum pada bahasa Inggris
dan Prancis, karena bahasanya kurang fonetik dibandingkan dengan bahasa lain.
Namun, bentuk disgrafia ini jarang terjadi.
Menulis merupakan suatu sarana berkomunikasi atau
penyapaian pesan kepada orang lain secara tertulis yang diwujudkan dalam bentuk
rangkaian lambang atau simbol grafis yang dapat dimengerti oleh penulis dan
dipahami oleh orang lain yang membacanya. Kemampuan menulis sangat diperlukan
tidak hanya di sekolah, tetapi juga di masyarakat.
Menurut Imron Rosidi (2014:3) menulis adalah salah satu
bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membantu orang lain (pembaca)
berpikir.
H.G. Tarigan dalam Saddhono dan Slamet (2014:154)
mengungkapkan bahwa menulis pada hakikatnya ialah melukiskan lambang – lambang
grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca
orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang – lambang grafis tersebut.
Abdurahman
(2003:223) menjelaskan bahwa kegunaan
kemampuan menulis bagi para siswa adalah untuk
menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa
memiliki kemampuan untuk menulis,
siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan
ketiga jenis tugas tersebut. Sehingga, sangat penting untuk dilakukan terapi untuk meningkatkan kemampuan anak
disgrafia dalam menulis agar anak dapat mencapai prestasi sesuai dengan target.
Untuk meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia
tidaklah mudah. Guru harus memilih metode dan media yang sesuai dan menarik
bagi anak, yang tidak membuat anak tertekan ataupun merasa bosan. Sebagai
contoh adalah metode multisensori yang memanfaatkan semua indera yang dimiliki
anak untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.
Penerapan metode ini, dapat dilakukan dengan memanfaatkan
barang yang sederhana seperti malam, pasir, huruf tiruan, “spacekid”.
2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam proses menulis tugas
ini penulis menggali informasi dari penelitian-penelitian sebelumnya sebagai
referensi penulisan, baik mengenai kekurangan atau kelebihan yang sudah ada.
Selain dari penelitian yang sudah ada, penulis juga menggali informasi dari
skripsi-skripsi maupun jurnal dalam rangka mendapatkan suatu informasi yang ada
sebelumnya tentang teori yang berkaitan dengan judul yang digunakan untuk
memperoleh landasan teori ilmiah.
1.
Skripsi
Hendra Tri Susanto, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Ilmu
Pendidikan, Jurusan Psikologi tahun 2013, dengan judul “ Metode Pembelajaran Dengan Token Ekonomi Untuk MengatasiI Siswa Berkesulitan Belajar Disgrafia Di Madrasah Ibtidaiyah Desa Bangun Kecamatan Pungging Kabuaten Mojokerto”.
2.
Jurnal
ilmu pendidikan Nurdayati Praptiningrum dan Purwandari, Dosen Pendidikan Luar
Biasa, FIP, UNY tahun 2009, dengan judul “ Metode Multisensori Untuk
Mengembangkan Kemampuan Membaca Anak Disleksia Di SD Inklusi.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan ilmu
yang mempelajari tentang cara penelitian
ilmu tentang alat-alat dalam suatu penelitian. Metode penelitian membeahas
tentang kosep-konsep teoritis dari semua metode yang ada, kelemahan dan
kelebihan yang dalam suatu karya ilmiah. Kemudian akan dilanjutkan dengan
pemilihan metode yang akan digunakan dalam penelitian.
Metode penelitian mencakup beberapa hal yaitu prosedur
dan teknik penelitian. Metode penelitian merupakan langkah penting untuk
memecahkan masalah dalam penelitian.
Dengan menguasai metode penelitian, bukan hanya dapat memecahkan berbagai
masalah penelitian, akan tetapi juga
dapat mengembangkan bidang keilmuan yang sedang diteliti. Selain itu, akan
menambah penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan dunia
pendidikan.
Jenis
Penelitian
Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan metode multisensori dengan memanfaatkan
semua indera yang dimiliki anak. Dengan menggunakan media spacekid, pasir, dan lilin malam.
Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif, metode Single Subject Research.
Lokasi
penelitian
Penelitian
akan dilakukan di SDN Percobaan Gedangan
Sasaran
Populasi :
seluruh siswa kelas V di SDN Percobaan Gedangan
Sampel : siswa
disgrafia di kelas V di SDN Percobaan Gedangan
Instrumen
Penelitian
Instrumen
penelitian yang digunakan check list perkembangan kemampuan menulis. Check list
terdiri dari 15 item.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi dan wawancara.
Observasi
adalah suatu cara untuk mengadakan suatu evaluasi dengan jalan pengamatan dari
pencatatan secara sistematis, logis, dan rasional mengenai fenomena yang
diselidiki meliputi kegiatan pembelajaran siswa dan kemampuan siswa.
Wawancara
adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab
sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Analisis Data
Analisis data
merupakan kegiatan setelah data setelah seluruh responden atau sumber data
terkumpul. Kegiatan dalam analisis data mengelompokkan data berdasarkan
variabel dari seluruh responden, menyajikan data dari tiap variabel yang
diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan
perhitungan untuk menguji hipotesis.
Daftar Rujukan
https://www.google.co.id/url?q=https://specialneedsprojecteec424.weebly.com/dysgraphia.html&sa=U&ved=2ahUKEwjbybCCzP_XAhUGJpQKHSAUARsQFjAAegQIFhAA&usg=AOvVaw31JdouVDXPVwKtoOLbCqUF (diakses pada tanggal 1 November 2017)
29 April 2017, https://www.google.co.id/url?q=http://kubuskecil.blogspot.com/2017/04/pengertian-menulis.html%3Fm%3D1&sa=U&ved=2ahUKEwjI0Zjzz__XAhXGq48KHbPJBSYQFjANegQIBhAA&usg=AOvVaw2Ivm4JP3eiDZSSXXAXRjAe (diakses pada 26 November 2017)
International Dyslexia Association, 2012. https://www.google.co.id/url?q=http://www.readingrockets.org/article/understanding-dysgraphia&sa=U&ved=2ahUKEwjb2PCD7obYAhUDPY8KHUWaANgQFjAFegQIDRAA&usg=AOvVaw0Sdyf3zfPg_w925Acrs3wo (diakses pada 30 November 2017)
Supporting Students With Learning Disabilities : A Guide For Teachers. (2011). Ministry
of Education. (e – book), diakses pada 16 Oktober 2017