Senin, 08 Januari 2018

RESUME RPS PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


TEORI BELAJAR

  • ·         Teori Behavioristik

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik
1.Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak.
2.Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3. Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4. Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6. Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan
  • ·         Teori Nativisme

Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan ditentukan secara biologis.
Chomsky dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Chomsky dalam Hadley (1993:50) mengemukakan bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi khusus bukan sekedar subset belajar secara umum. Cara berbahasa jauh lebih rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon. Chomsky dalam Hadley (1993: 48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat, karena adanya LAD. Menurut golongan ini belajar bahasa pada hakikatnya hanyalah proses pengisian detil kaidah-kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke dalam LAD yang sudah tersedia secara alamiah pada manusia tersebut.
Salah seorang penganut golongan ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsikan LAD itu terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
a. Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b. Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
c. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tidak mungkin.
d. Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
Manusia mempunyai bakat untuk terus menerus mengevaluasi sistem bahasanya dan terus menerus mengadakan revisi untuk pada akhirnya menuju bentuk yang berterima di lingkungannya.
  • ·         Teori Mentalisme

Teori mentalisme merupakan kebalikan dari teori behaviorisme dimana teori ini lebih cenderung pada pembahasan yang bersifat batiniah. Menurut N. Chomsky (dalam sumardi, 1992:97) bahwa pemerolehan bahasa tidak dapat dicapai melalui pembentukan kebiasaan karena bahasa terlalu sulit untuk dipelajari dengan cara semacam itu apalagi dalam waktu yang singkat.
Sementara itu ada beberapa pendapat kaum mentalis tentang pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang dikutip oleh Sapani (1998:14):
a) Bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia
b) Perilaku bahasa adalah suatu yang diturunkan
c) Pemerolehan bahasa berlangsung secara alami
d) Pola perkembangan bahasa sama pada berbagai macam bahasa dan budaya
e) Setiap anak sudah dibekali dengan piranti penguasaan bahasa sebagai bawaan dari lahir
f) Aliran mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia dengan yang terjadi pada binatang
g) Belajar bahasa tidak sekedar latihan – l;atihan mekanistis melainkan lebih kompleks
  • ·         Teori Kognitivisme

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya.
Sehingga dalam aliran kognitivistik ini terdapat ciri-ciri pokok. Adapun ciri-ciri dari aliran kognitivistik yang dapat dilihat adalah sebagai berikut:
a)     Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
b)     Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
c)      Mementingkan peranan kognitif
d)     Mementingkan kondisi waktu sekarang
e)     Mementingkan pembentukan struktur kognitif
  • ·         Teori Humanisme

Dalam teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan.
Sementara menurut Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992-76) pengajaran bahasa menurut teori humanisme, sbb.
1) Sangat menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful communication) berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan sebelumnya.
2) Pendekatan ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu.
3) Pembelajaran digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan keputusan.
4) Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5) Guru berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas dibanding silabus materi yang digunakan.
6) Materi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7) Bahasa ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari.
  • ·         Teori Fungsionalisme

Dengan munculnya kontruktivisme dalam dunia psikologi, dalam tahun-tahun terakhir ini menjadi lebih jelas bahwa belajar bahasa berkembang dengan baik di bawah gagasan kognitif dan struktur ingatan.
Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendirisebagai manusia. Lebih lagi kaedah generatif yang diusulkan di bawah naungan nativisme itu bersifat abstrak, formal, eksplisit dan logis, meskipun kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.
  • ·         Teori Kontruktivisme

Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan.
Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa kata-kata saja, namun berupa konsep.
Dalam rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru-guru untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
 1) Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan kegiatan sehingga menarik dan memotivasi pelajar,
2) Harus ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah.

HAKIKAT BAHASA
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. (Kridalaksana: 1983)
Ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa yaitu:
1.      bahasa itu adalah sebuah sistem,
2.      bahasa itu berwujud lambang,
3.      bahasa itu berupa bunyi,
4.      bahasa itu bersifat arbitrer,
5.      bahasa itu bermakna,
6.      bahasa itu bersifat konvensional,
7.      bahasa itu bersifat unik,
8.      bahasa itu bersifat universal,
9.      bahasa itu bersifat produktif,
10.  bahasa itu bervariasi,
11.  bahasa itu bersifat dinamis, dan
12.  bahasa itu manusiawi.

SIFAT – SIFAT BAHASA
     Bahasa itu adalah Sebuah Sistem. Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.
Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.
Bahasa itu Berwujud Lambang. Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.
Bahasa itu berupa bunyi. Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.
Bahasa itu bersifat arbitrer. Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung signifiant.
Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.
Bahasa itu bermakna. Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa [dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa
Bahasa itu bersifat konvensional. Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.
Bahasa itu bersifat unik. Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.
Bahasa itu bersifat universal. Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.
Bahasa itu bersifat produktif. Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:
Bahasa itu bervariasi. Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:
·         Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan.
·         Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
·         Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak baku.
Bahasa itu bersifat dinamis. Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan perubahan-perubahan lainnya.
 Bahasa itu manusiawi. Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

PRINSIP BAHASA
Ada beberapa prinsip pembelajaran bahasa Indonesia yaitu :
a.     Prinsip Kontekstual
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan menghubungkannya dengan masalah kehidupan mereka sehari-hari. Pendekatan Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara bahan yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.
b.     Prinsip Integratif
Menurut Maksan (1994:2) bahasa adalah suatu sistem. Hal tersebut berarti suatu keseluruhan kegiatan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan untuk mencapai tujuan berbahasa yaitu berkomunikasi.
Subsistem bahasa adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat sistem ini tidak dapat berdiri sendiri. Artinya. pada saat kita menggunakan bahasa, tidak hanya menggunakan salah satu unsur tersebut. Sebagai contoh pada saat pembelajaran berbicara, kita menggunakan kata, kata disusun menjadi kalimat. Kalimat yang kita ucapkan menggunakan intonasi yang tepat. Dalam kaitan ini secara tidak sadar kita telah memadukan unsur fonologi (lafal, intonasi). morfologi (kata), sintaksis (kalimat). dan semantik (makna kalimat).
c.    Prinsip Fungsional
Prinsip fungsional dalam pemabalajaran bahasa pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran pendekatan komunikatif.
d.     Prinsip Apresiatif
Prinsip apresiatif ini tidak hanya berlaku untuk pembelajaran bahasa, tetapi juga untuk pembelajaran aspek yang lain seperti keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Dalam hal ini pembelajaran bahasa dapat dipadukan dalam pembelajaran keempat keterampilan berbahasa tersebut.

PROSES BERBAHASA
Proses berbahasa : Produktif dan Reseptif
Meski seharihari kita menghasilkan ujaran dan memahami ujaran orang lain, rasanya tak pernah terpikirkan oleh kita bagaimana proses berbahasa itu terjadi. Untuk dapat memahaminya Anda perlu memahami dulu tentang tindak berbahasa.
De Saussure seorang linguis dari Swiss menyatakan bahwa proses bertutur atau tindak bahasa itu merupakan rantai hubungan di antara dua orang atau lebih penutur A dan pendengar B (Simanjuntak, 1987). Perilaku tuturan itu terdiri atas bagian fisik yang terdiri atas mulut, telinga dan bagian dalam yaitu bagian jiwa atau akal yang terdapat dalam otak bertibdak sebagai pusat penghubung. Jika A bertutur, maka B mendengar dan jika B bertutur maka, A mendengar.
Di dalam otak penutur A terdapat faktafakta mental atau konsepkonsep yang dihubungkan dengan bunyibunyi kebahasaan sebagai perwujudannya yang digunakan untuk menyatakan konsepkonsep itu. Baik konsep maupun bayangan bunyi itu berada dalam otak, yaitu pada pusat penghubung. jika penutur A mengemukakan suatu konsep kepada penutur B, maka konsep tersebut membukakan pintu kepada pewujudnya yang serupa yaitu bayangan bunyi yang masih ada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian otak mengirimkan dorongan hati yang sama dengan bayangan bunyi tadi kepada alat-alat yang mengeluarkan bunyi dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi bergerak dari mulut A ke telinga B dan ini merupakan proses fisik. Dari telinga B gelombang bunyi bergerak terus ke arah otak B dalam bentuk dorongan hati dan ini juga proses psikologis yang menghubungkan bayangan bunyi ini dengan konsep yang terjadi.

KETERAMPILAN BERBAHASA
            ASPEK KETRAMPILAN BERBAHASA
1.      Ketrampilan menyimak (listening skills)
 Menyimak adalah suatu rentetan proses jasmaniah, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi, menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman Bistok (Via Sutari, dkk, 1997:21)
Menyimak adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseftif. Dengan demikian di sini berarti bukan sekedar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melainkan sekaligus memahaminya. Dalam bahasa pertama (bahasa ibu), kita memperoleh keterampilan mendengarkan melalui proses yang tidak kita sadari sehingga kitapun tidak menyadari begitu kompleksnya proses pemerolehan keterampilan mendengar tersebut. Berikut ini secara singkat disajikan disekripsi mengenai aspek-aspek yang terkait dalam upaya belajar memahami apa yang kita sajikan dalam bahasa kedua.Menyimak merupakan proses rohaniah.
2. Ketrampilan berbicara (speaking skills)
 Kemudian sehubungan dengan keterampilan berbicara secara garis besar ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantuan anatara berbicara dan mendengarkan, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kiat dapat memintal lawan berbicara, memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Adapun Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.
3.      Ketrampilan membaca (reading skills)
Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memilki tradisi lireasi yang telah berkembang, seringkali keterampilan membaca dikembangkan secara terintergrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
4.      Ketrampilan menulis (writing skills)
Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan bertbahasa yang lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekedar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.

RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kompetensi Inti
Sadar akan kewajiban dalam ibadah sehari dilingkungan keluarga dan sekolah
Kompetesi Dasar
Menjalankan urutan tata cara ibadah yang disimpbolkan dengan gambar2
Indikator
Memahami tata urutan kegiatan sholat melalui gambar
Tujuan pembelajaran
o   dengan diberikan gambar tata urutan gambar sholat yang benar siswa dapat menirukan sesuai dengan gambar
o   Dengan diberikan gambar tata urutan sholat mampu berinteraksi dengan guru dan rekan rekannya dengan baik
Materi Pembelajaran :
Alokasi waktu
1× pertemuan 60 menit
Metode pembelajaran 
 metode diskusi, tanya jawab, praktik
Kegiatan pembelajaran
o   Pendahuluan :
Guru mengucapkan salam
Guru mengecek kehadiran  peserta didik
Guru menjelaskan mengenai tema pembelajaran
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
o   Inti
Guru menempel gambar urutan tata cara sholat di papan tulis secara acak
Sisw  diminta untuk mengmati gambar yang telah di tempel didepan papan tulis
Guru mengintruksikan peserta didik untuk membuat kelompok
Guru membantu peserta didik untuk membentuk kelompok, 1 kelompok berisi 4 siswa
Setelah mengamati gambar, siswa diminta untuk mengurutkan tata cara sholat dengan benar
Setelah tata cara urutan sudah benar siswa diminta untuk mengikuti gerakan sholat sesuai dengan gambar
Secara bergantian guru meminta 1 kelompok maju kedepan untuk mempraktikan gerakan sholat dengan tepat
o   Penutup
Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran

HAKIKAT MEMBACA DAN MENULIS
Membaca merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai olehs etiap individu. Tarigan (2008: 7)  membaca adalah proses yang dilakukan digunakan
Oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan olehpenulis melalui bahasa tulis, membaca merupakan interaktif untuk memetik dan memahami makna yang terkandung dalam tertulis. dikatakan bahwa membaca merupakan proses yang dan digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan 'Supriadi (2008: 2) membaca adalah proses yang melibatkan aktivitas dan mental. "salah satu aktivitas dalam membaca adalah saat pembaca menggerakkan mata sepanjang baris baris tulisan dalam sebuah teks Membaca melibatkan aktivitas mental yang dapat menjamin pemerolehan pemahaman menjadi maksimal. Membaca bukan hanya sekadar menggerakkan bolamata dari margin kiri ke kanan tetapi jauh dari itu yakni aktivitas berpikir memahami tulisan demi tulisan  membaca adalah kemampuan yangkompleks. membaca tidak hanya memandangi lambang lambang tertulis melainkan berupaya memahami makna lambang lambang tertulis tersebut.  membaca adalah aktivitas rumit yang melibatkan aktivitas visual! Berpikir psikolinguistik  dan metakogniti. membaca keterampilan yang lambat laun akan menjadi perilaku keseharian seseorang .membaca memiliki sikap tertentu pada awal sebelum keterampilan membaca ini berdasarkan pengertian membaca yang dipaparkan di atas. Penulis sependapat bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui bahasa tulis dengan membaca, pembaca memperoleh banyak manfaat tersebut yaitu dapat memperluas pengetahuannya dan menggali tertulis yang terdapat dalam bahan bacaan.

TUJUAN MEMBACA
Kegiatan membaca bukan merupakan kegiatan yang tidak bertujuan. merumuskan sembilan alasan seseorang alasan tersebut adalah sebagai berikut.
a. untuk tertawa.
b. untuk menghidupkan kembali pengalaman pengalaman sehari hari.
c. untuk menikmati kehidupan emosional dengan orang lain
d. untuk memuaskan kepenasaran khususnya kenapa orang berbuat dengan cara mereka
e. untuk menikmati situasi dramatik seolah olah mengalami sendiri.
f. untuk memperoleh in#ormasi tentang dunia yang kita tempati.
g. untuk merasakan kehadiran orang dan menikmati tempat - tempat yang pernah kita lihat untuk mengetahui seberapa cerdas kita menebak dan memecahkan masalah terdapat 7 tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Memperoleh perincian perincian atau fakta (reading for details or)
2.      Memperoleh ide utama (reading for main ideas)
3.      Mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita (reading for sequence)
4.      Membaca bertujuan untuk menyimpulkan isi yang terkandung dalam (reading for inference)
5.      Mengelompokkan atau mengklasifikasikan jenis bacaan (reading to evaluate)
6.      Membandingkan atau mempertentangkan isi bacaan dengan kehidupan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar