TEORI BELAJAR
- · Teori Behavioristik
Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus
adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa
reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru
tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati
dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh
karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh
pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Teori
ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Prinsip-Prinsip
dalam Teori Behavioristik
1.Perilaku nyata
dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau
mental yang abstrak.
2.Aspek mental
dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk
sciene, harus dihindari.
3. Penganjur
utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek
yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4. Dalam
perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para
behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya
pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan
mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt
behavior tetap terjadi.
5. Aliran
behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat
positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6. Banyak ahli
membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang
lebih belakangan
- · Teori Nativisme
Istilah
nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa
ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia dilahirkan sudah memiliki bakat
untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh
dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa
bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu,
pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan
ditentukan secara biologis.
Chomsky
dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan
bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan
komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh
sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain.
Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki
bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language
Acquisition Device). Chomsky dalam Hadley (1993:50) mengemukakan bahwa belajar
bahasa merupakan kompetensi khusus bukan sekedar subset belajar secara umum.
Cara berbahasa jauh lebih rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon.
Chomsky dalam Hadley (1993: 48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat
untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat,
karena adanya LAD. Menurut golongan ini belajar bahasa pada hakikatnya hanyalah
proses pengisian detil kaidah-kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke
dalam LAD yang sudah tersedia secara alamiah pada manusia tersebut.
Salah
seorang penganut golongan ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsikan LAD itu
terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
a.
Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b.
Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
c.
Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain
yang tidak mungkin.
d.
Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem
yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang
diperoleh.
Manusia
mempunyai bakat untuk terus menerus mengevaluasi sistem bahasanya dan terus
menerus mengadakan revisi untuk pada akhirnya menuju bentuk yang berterima di
lingkungannya.
- · Teori Mentalisme
Teori
mentalisme merupakan kebalikan dari teori behaviorisme dimana teori ini lebih
cenderung pada pembahasan yang bersifat batiniah. Menurut N. Chomsky (dalam
sumardi, 1992:97) bahwa pemerolehan bahasa tidak dapat dicapai melalui
pembentukan kebiasaan karena bahasa terlalu sulit untuk dipelajari dengan cara
semacam itu apalagi dalam waktu yang singkat.
Sementara
itu ada beberapa pendapat kaum mentalis tentang pembelajaran dan pemerolehan
bahasa yang dikutip oleh Sapani (1998:14):
a) Bahasa hanya
dapat dikuasai oleh manusia
b) Perilaku
bahasa adalah suatu yang diturunkan
c) Pemerolehan
bahasa berlangsung secara alami
d) Pola
perkembangan bahasa sama pada berbagai macam bahasa dan budaya
e) Setiap anak
sudah dibekali dengan piranti penguasaan bahasa sebagai bawaan dari lahir
f) Aliran
mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia dengan yang
terjadi pada binatang
g) Belajar
bahasa tidak sekedar latihan – l;atihan mekanistis melainkan lebih kompleks
- · Teori Kognitivisme
Teori
belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang
terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses
usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai
akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu
perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan
nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Dalam
belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa
meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar
merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi
terus-menerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita
yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan,
melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi
baru, menarik simpulan dan sebagainya.
Sehingga dalam aliran kognitivistik
ini terdapat ciri-ciri pokok. Adapun ciri-ciri dari aliran kognitivistik yang
dapat dilihat adalah sebagai berikut:
a) Mementingkan apa yang ada dalam diri
manusia
b) Mementingkan keseluruhan dari pada
bagian-bagian
c) Mementingkan peranan kognitif
d) Mementingkan kondisi waktu sekarang
e) Mementingkan pembentukan struktur kognitif
- · Teori Humanisme
Dalam
teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran
mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan
mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat
mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan
sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan.
Sementara menurut
Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992-76) pengajaran bahasa menurut teori
humanisme, sbb.
1) Sangat
menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful communication)
berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus
kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan
sebelumnya.
2) Pendekatan
ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu.
3) Pembelajaran
digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana siswa
memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan keputusan.
4) Siswa lain
sebagai kelompok suporter dimana mereka saling berinteraksi, saling membantu
dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5) Guru berperan
sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas dibanding silabus
materi yang digunakan.
6) Materi
berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7) Bahasa ibu
para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk
memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari.
- · Teori Fungsionalisme
Dengan
munculnya kontruktivisme dalam dunia psikologi, dalam tahun-tahun terakhir ini
menjadi lebih jelas bahwa belajar bahasa berkembang dengan baik di bawah
gagasan kognitif dan struktur ingatan.
Para
peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan
kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang
lain dan juga keperluan terhadap diri sendirisebagai manusia. Lebih lagi kaedah
generatif yang diusulkan di bawah naungan nativisme itu bersifat abstrak,
formal, eksplisit dan logis, meskipun kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk
bahasa dan tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk
dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.
- · Teori Kontruktivisme
Pembelajaran
harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan
secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh
didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa
harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide
tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk
mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain
dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam
mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta
menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan.
Siswa
dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya.
Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa
mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa
telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa
kata-kata saja, namun berupa konsep.
Dalam
rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru-guru untuk menciptakan
lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan
dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Pembelajar harus berperan aktif dalam
menyeleksi dan menetapkan kegiatan sehingga menarik dan memotivasi pelajar,
2) Harus ada
guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep,
nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah.
HAKIKAT BAHASA
Bahasa adalah
sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok
sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.
(Kridalaksana: 1983)
Ciri atau sifat
yang hakiki dari bahasa yaitu:
1.
bahasa itu adalah
sebuah sistem,
2.
bahasa itu berwujud
lambang,
3.
bahasa itu berupa
bunyi,
4.
bahasa itu bersifat
arbitrer,
5.
bahasa itu bermakna,
6.
bahasa itu bersifat
konvensional,
7.
bahasa itu bersifat
unik,
8.
bahasa itu bersifat
universal,
9.
bahasa itu bersifat
produktif,
10.
bahasa itu bervariasi,
11.
bahasa itu bersifat
dinamis, dan
12.
bahasa itu manusiawi.
SIFAT – SIFAT BAHASA
Bahasa itu adalah Sebuah Sistem. Sistem
berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna
atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain
berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara
teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.
Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis
dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak
tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem
tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan
nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi,
tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon.
Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.
Bahasa itu Berwujud Lambang. Lambang dengan berbagai
seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang
mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika
dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal
(signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.
Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat
wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.
Bahasa itu berupa bunyi. Menurut Kridalaksana
(1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang
telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah
bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.
Bahasa itu bersifat arbitrer. Kata arbitrer bisa
diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang
dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara
lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang
dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam
dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant
(penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep
yang dikandung signifiant.
Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada
hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang
tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia
mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna
sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita
dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun
untuk mengetahui maknanya.
Bahasa itu bermakna. Salah satu sifat hakiki dari
bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan
suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin
disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu
mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak
mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda],
[makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa [dsljk], [ahgysa],
[kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa
Bahasa itu bersifat konvensional. Meskipun hubungan
antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi
penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional.
Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang
tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya,
binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda],
maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak
dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.
Bahasa itu bersifat unik. Bahasa dikatakan bersifat
unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki
oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem
pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.
Bahasa itu bersifat universal. Selain bersifat unik,
bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki
oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang
paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari
vokal dan konsonan.
Bahasa itu bersifat produktif. Bahasa bersifat
produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan
unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang
tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam
bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/,
dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:
Bahasa itu bervariasi. Anggota masyarakat suatu
bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan
latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa
yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:
·
Idiolek : Ragam bahasa
yang bersifat perorangan.
·
Dialek : Variasi bahasa
yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu
waktu.
·
Ragam : Variasi bahasa
yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak
baku.
Bahasa itu bersifat dinamis. Bahasa tidak pernah
lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu
sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan
keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam
masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut
berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa
pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan
perubahan-perubahan lainnya.
Bahasa itu
manusiawi. Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi
binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu
bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam
arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.
PRINSIP BAHASA
Ada beberapa prinsip
pembelajaran bahasa Indonesia yaitu :
a. Prinsip Kontekstual
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah proses
pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna
materi ajar dengan menghubungkannya dengan masalah kehidupan mereka
sehari-hari. Pendekatan Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru
menghubungkan antara bahan yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.
b. Prinsip Integratif
Menurut Maksan (1994:2) bahasa adalah suatu sistem.
Hal tersebut berarti suatu keseluruhan kegiatan yang satu dengan yang lainnya
saling berkaitan untuk mencapai tujuan berbahasa yaitu berkomunikasi.
Subsistem bahasa adalah fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantik. Keempat sistem ini tidak dapat berdiri sendiri.
Artinya. pada saat kita menggunakan bahasa, tidak hanya menggunakan salah satu
unsur tersebut. Sebagai contoh pada saat pembelajaran berbicara, kita
menggunakan kata, kata disusun menjadi kalimat. Kalimat yang kita ucapkan
menggunakan intonasi yang tepat. Dalam kaitan ini secara tidak sadar kita telah
memadukan unsur fonologi (lafal, intonasi). morfologi (kata), sintaksis
(kalimat). dan semantik (makna kalimat).
c. Prinsip Fungsional
Prinsip fungsional dalam pemabalajaran bahasa pada
hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran pendekatan komunikatif.
d. Prinsip Apresiatif
Prinsip apresiatif ini tidak hanya berlaku untuk
pembelajaran bahasa, tetapi juga untuk pembelajaran aspek yang lain seperti
keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Dalam hal
ini pembelajaran bahasa dapat dipadukan dalam pembelajaran keempat keterampilan
berbahasa tersebut.
PROSES BERBAHASA
Proses
berbahasa : Produktif dan Reseptif
Meski sehari‑hari
kita menghasilkan ujaran dan memahami ujaran orang lain, rasanya tak pernah
terpikirkan oleh kita bagaimana proses berbahasa itu terjadi. Untuk dapat
memahaminya Anda perlu memahami dulu tentang tindak berbahasa.
De Saussure seorang linguis dari Swiss menyatakan
bahwa proses bertutur atau tindak bahasa itu merupakan rantai hubungan di
antara dua orang atau lebih penutur A dan pendengar B (Simanjuntak, 1987).
Perilaku tuturan itu terdiri atas bagian fisik yang terdiri atas mulut, telinga
dan bagian dalam yaitu bagian jiwa atau akal yang terdapat dalam otak bertibdak
sebagai pusat penghubung. Jika A bertutur, maka B mendengar dan jika B bertutur
maka, A mendengar.
Di dalam otak penutur A terdapat fakta‑fakta
mental atau konsep‑konsep yang
dihubungkan dengan bunyi‑bunyi
kebahasaan sebagai perwujudannya yang digunakan untuk menyatakan konsep‑konsep
itu. Baik konsep maupun bayangan bunyi itu berada dalam otak, yaitu pada pusat
penghubung. jika penutur A mengemukakan suatu konsep kepada penutur B, maka
konsep tersebut membukakan pintu kepada pewujudnya yang serupa yaitu bayangan
bunyi yang masih ada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian
otak mengirimkan dorongan hati yang sama dengan bayangan bunyi tadi kepada
alat-alat yang mengeluarkan bunyi dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian
gelombang bunyi bergerak dari mulut A ke telinga B dan ini merupakan proses
fisik. Dari telinga B gelombang bunyi bergerak terus ke arah otak B dalam
bentuk dorongan hati dan ini juga proses psikologis yang menghubungkan bayangan
bunyi ini dengan konsep yang terjadi.
KETERAMPILAN BERBAHASA
ASPEK
KETRAMPILAN BERBAHASA
1. Ketrampilan
menyimak (listening skills)
Menyimak
adalah suatu rentetan proses jasmaniah, mulai dari proses mengidentifikasi
bunyi, menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu dengan
seluruh pengetahuan dan pengalaman Bistok (Via Sutari, dkk, 1997:21)
Menyimak adalah keterampilan memahami bahasa lisan
yang bersifat reseftif. Dengan demikian di sini berarti bukan sekedar
mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melainkan sekaligus memahaminya. Dalam bahasa
pertama (bahasa ibu), kita memperoleh keterampilan mendengarkan melalui proses
yang tidak kita sadari sehingga kitapun tidak menyadari begitu kompleksnya
proses pemerolehan keterampilan mendengar tersebut. Berikut ini secara singkat
disajikan disekripsi mengenai aspek-aspek yang terkait dalam upaya belajar
memahami apa yang kita sajikan dalam bahasa kedua.Menyimak merupakan proses
rohaniah.
2.
Ketrampilan berbicara (speaking skills)
Kemudian
sehubungan dengan keterampilan berbicara secara garis besar ada tiga jenis
situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif.
Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan
berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantuan anatara berbicara
dan mendengarkan, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan
atau kiat dapat memintal lawan berbicara, memperlambat tempo bicara dari lawan
bicara. Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif, misalnya dalam
berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang
tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat
melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Adapun
Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya
berpidato melalui radio atau televisi.
3. Ketrampilan
membaca (reading skills)
Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan
berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Keterampilan membaca dapat
dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan
berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memilki tradisi lireasi yang telah
berkembang, seringkali keterampilan membaca dikembangkan secara terintergrasi
dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
4. Ketrampilan
menulis (writing skills)
Menulis
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat
produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di
antara jenis-jenis keterampilan bertbahasa yang lainnya. Ini karena menulis
bukanlah sekedar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga
mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang
teratur.
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kompetensi Inti
Sadar akan kewajiban dalam ibadah sehari dilingkungan
keluarga dan sekolah
Kompetesi Dasar
Menjalankan urutan tata cara ibadah yang disimpbolkan
dengan gambar2
Indikator
Memahami tata urutan kegiatan sholat melalui gambar
Tujuan
pembelajaran
o dengan diberikan gambar tata urutan gambar sholat yang
benar siswa dapat menirukan sesuai dengan gambar
o Dengan diberikan gambar tata urutan sholat mampu
berinteraksi dengan guru dan rekan rekannya dengan baik
Materi Pembelajaran
:
Alokasi
waktu
1× pertemuan 60 menit
Metode
pembelajaran
metode diskusi,
tanya jawab, praktik
Kegiatan
pembelajaran
o Pendahuluan :
Guru mengucapkan salam
Guru mengecek kehadiran peserta didik
Guru menjelaskan mengenai tema pembelajaran
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
o Inti
Guru menempel gambar urutan tata cara sholat di papan
tulis secara acak
Sisw diminta
untuk mengmati gambar yang telah di tempel didepan papan tulis
Guru mengintruksikan peserta didik untuk membuat
kelompok
Guru membantu peserta didik untuk membentuk kelompok,
1 kelompok berisi 4 siswa
Setelah mengamati gambar, siswa diminta untuk
mengurutkan tata cara sholat dengan benar
Setelah tata cara urutan sudah benar siswa diminta
untuk mengikuti gerakan sholat sesuai dengan gambar
Secara bergantian guru meminta 1 kelompok maju kedepan
untuk mempraktikan gerakan sholat dengan tepat
o Penutup
Siswa
bersama guru menyimpulkan pembelajaran
Siswa
melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
Siswa
menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran
HAKIKAT MEMBACA DAN
MENULIS
Membaca merupakan keterampilan yang sangat penting
untuk dikuasai olehs etiap individu. Tarigan (2008: 7) membaca adalah proses yang dilakukan
digunakan
Oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan olehpenulis melalui bahasa tulis, membaca merupakan interaktif
untuk memetik dan memahami makna yang terkandung dalam tertulis. dikatakan
bahwa membaca merupakan proses yang dan digunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan yang disampaikan 'Supriadi (2008: 2) membaca adalah proses yang
melibatkan aktivitas dan mental. "salah satu aktivitas dalam membaca
adalah saat pembaca menggerakkan mata sepanjang baris baris tulisan dalam
sebuah teks Membaca melibatkan aktivitas mental yang dapat menjamin pemerolehan
pemahaman menjadi maksimal. Membaca bukan hanya sekadar menggerakkan bolamata
dari margin kiri ke kanan tetapi jauh dari itu yakni aktivitas berpikir
memahami tulisan demi tulisan membaca
adalah kemampuan yangkompleks. membaca tidak hanya memandangi lambang lambang
tertulis melainkan berupaya memahami makna lambang lambang tertulis
tersebut. membaca adalah aktivitas rumit
yang melibatkan aktivitas visual! Berpikir psikolinguistik dan metakogniti. membaca keterampilan yang
lambat laun akan menjadi perilaku keseharian seseorang .membaca memiliki sikap
tertentu pada awal sebelum keterampilan membaca ini berdasarkan pengertian membaca
yang dipaparkan di atas. Penulis sependapat bahwa membaca merupakan proses yang
dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan penulis melalui bahasa tulis dengan membaca, pembaca memperoleh
banyak manfaat tersebut yaitu dapat memperluas pengetahuannya dan menggali
tertulis yang terdapat dalam bahan bacaan.
TUJUAN
MEMBACA
Kegiatan membaca bukan merupakan kegiatan yang tidak
bertujuan. merumuskan sembilan alasan seseorang alasan tersebut adalah sebagai
berikut.
a.
untuk tertawa.
b.
untuk menghidupkan kembali pengalaman pengalaman sehari hari.
c.
untuk menikmati kehidupan emosional dengan orang lain
d.
untuk memuaskan kepenasaran khususnya kenapa orang berbuat dengan cara mereka
e.
untuk menikmati situasi dramatik seolah olah mengalami sendiri.
f.
untuk memperoleh in#ormasi tentang dunia yang kita tempati.
g.
untuk merasakan kehadiran orang dan menikmati tempat - tempat yang pernah kita
lihat untuk mengetahui seberapa cerdas kita menebak dan memecahkan masalah
terdapat 7 tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memperoleh
perincian perincian atau fakta (reading for details or)
2. Memperoleh
ide utama (reading for main ideas)
3. Mengetahui
urutan atau susunan organisasi cerita (reading for sequence)
4. Membaca
bertujuan untuk menyimpulkan isi yang terkandung dalam (reading for inference)
5. Mengelompokkan
atau mengklasifikasikan jenis bacaan (reading to evaluate)
6. Membandingkan
atau mempertentangkan isi bacaan dengan kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar