Senin, 08 Januari 2018

new proposal penelitian pendidikan

PENGGUNAAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS ANAK DISGRAFIA KELAS V DI SDN PERCOBAAN GEDANGAN
  

Disusun Oleh :
Indah Kulbirodiyah       15010044028


PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017

BAB I
PENDAHULUAN
11.1   Latar belakang
Dalam pendidikan, sudah sewajarnya seorang Guru mengharapkan siswanya dapat mencapai hasil maksimal pada proses pembelajaran. Namun, pada kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai hasil yang masksimal seperti yang diharapkan. Besar kemungkinan siswa mengalami kesulitan belajar, sehingga siswa tidak dapat mencapai prestasi sesuai yang telah ditargetkan.
 Kesulitan belajar adalah suatu masalah neurologis pada otak yang mempengaruhi cara seseorang dalam mengambil, menyimpan ataupun menggunaan informasi. Kesulitan belajar merujuk pada salah satu kondisi yang mempengaruhi kekuatan dalam penerimaan, pengorganisasian, peneriaan, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal. Kesulitan belajar merupakan akibat dari melemahnya satu atau beberapa proses yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat ataupun belajar. Seperti halnya proses berbahasa, proses fonologi, proses pengamatan, proses kecepatan, mengingat, perhatian dan fungsi eksekutif.(diambil oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2002, disesuikan dengan definisi yang diambil oleh Disabilities Association of Canada and the BC Association of School Psychologists).
Rumini dkk (Irham dan Wiyani, 2013:254) mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat siswa mengalami hambatan – hambatan tertentu untuk mengikuti proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar secara optimal.
Sedangkan menurut Bauer, Keefe, and Shea (dalam Djaja & Sujarwanto, 2010: 77) menyebutkan bahwa “kesulitan belajar merupakan peristilahan yang dipergunakan pada siswa-siswa yang mempunyai kesulitan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar disebabkan karena kurangnya inteligensi, kelainan sensoris, ketidak beruntungan atau ketidak cukupan budaya atau bahasa”.
Menurut Grossman (dalam Purwanti, 2008 : 4) kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana prestasi tidak tercapai sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Senada dengan hal tersebut, Sugihartono, dkk. (2007:149) menjelaskan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau di bawah norma yang telah ditetapkan.
Menurut Blassic dan Jones (Irham dan Wiyani, 2013:253), kesulitan belajar yang dialami siswa menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademi yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya (prestasi aktual).
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar sehingga menyebabkan siswa tidak bisa mencpai prestasi belajar yang telah di targetkan.
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok (Abdurrahman, 2003:11), yaitu:
1.      Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
2.      Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang mencakup adanya kegagalan – kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan – kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau matematika (diskalkulia).
Dysgraphia berasal dari kata Yunani. Arti kata tersebut mengacu pada fungsi tangan yang digunakan menulis dan huruf – huruf yang dibentuk oleh tangan. Gejala awalnya adalah terjadi penurunan nilai pada anak yang mengacu pada kesalahan pada pembentukan huruf dengan tangan.
Dengan demikian, disgrafia adalah kondisi dimana terjadi gangguan pada tangan yang menyebabkan tulisan huruf menjadi buruk. Disgrafia dapat menghambat anak dalam belajar mengeja kata – kata secara tertulis dan kecepatan menulis teks. Anak – anak dengan disgrafia hanya mengalai gangguan dalam tulisan tangan dan ejaan, tanpa masalah membaca.
Menurut Djaja (2010 : 78) disgrafia adalah kesulitan belajar yang berkaitan dengan masalah menulis. Kelainan ini diketahui secara mendasar dari perbedaan nilai antara nilai anak yang tinggi pada tes inteligensi dan nilai yang rendah pada nilai tes yang diperoleh dari menulis. Mulyono (2002 : 228) mengemukakan bahwa disgrafia adalah kesulitan belajar  dalam hal menulis.
Seseorang dapat mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) karena beberapa sebab. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ronald D. Davis dalam bukunya “ The Gift Of Learning” (2003), yang menyatakan bahwa ada tujuh penyebab anak mengalami kesulitan belajar menulis, yaitu : kerusakan otak, cacat fisik, sengaja tidak belajar tulis menulis, disorientasi, tidak memahami instruksi, memiliki gambaran mental ganda, tidak cukup memiliki orientasi alam.
Beberapa individu dengan disgrafia mengalami kesulitan pada koordinasi motorik halus, namun ada pula yang fisiknya bergetar sehingga menciptakan tulisan yang buruk. Banyak ahli percaya bahwa “disgrafia melibatkan disfungsi dalam interaksi antara dua sistem otak utama yang memungkinkan seseorang kesulitan dalam menerjemahkan kata – kata ke bahasa tertulis”. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa insividu menggunakan suara untuk mengingat sesuatu.(Deuel, 2011)
5 – 20% siswa mengalami kesulitan belajar menulis.(Reynold, 2007). Studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 yang membahas tingkat prevalensi disgrafia di sekolah dasar mulai dari 5 – 33%. Dikatakan bahwa gangguan menulis menurun seiring dengan bertambahnya usia siswa. diperkirakan pada awal kelas dua, 37% siswa mengalami disgrafia, dan semakin menurun menjadi 17% pada akhir tahun.(Overveide, 2011)
Menulis merupakan suatu sarana berkomunikasi atau penyapaian pesan kepada orang lain secara tertulis yang diwujudkan dalam bentuk rangkaian lambang atau simbol grafis yang dapat dimengerti oleh penulis dan dipahami oleh orang lain yang membacanya.
Menurut Imron Rosidi (2014:3) menulis adalah salah satu bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membantu orang lain (pembaca) berpikir.
Menurut St. Kartono (2013:17) menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya pada khalayak.
H.G. Tarigan dalam Saddhono dan Slamet (2014:154) mengungkapkan bahwa menulis pada hakikatnya ialah melukiskan lambang – lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang – lambang grafis tersebut.
Sedangkan menurut Natalie Golberg dalam Naning Pranoto (2015:21) mengemukakan bahwa menulis adalah komunikasi dengan diri sendiri, diolah dengan rasa dan dikendalikan oleh pikiran.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah proses menuangkan pikiran berupa simbol – simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Pada hakikatnya kemampuan menulis sangatlah penting. Karena menulis digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, dalam bidang akademik, semua mata pelajaran menggunakan keterampilan menulis.
Anak – anak disgrafia tidak hanya mengalami gangguan dalam hal menulis, beberapa dari mereka juga memiliki gangguan attention deficit and hyperactive disorder (ADHD). Anak – anak dengan disgrafia dapat merespon kombinasi instruksi yang berkaitan dengan tulisan tangan jika instruksi yang diberikan jelas dan disertai dengan rangsangan. Namun, jika anak disgrafia disertai dengan diagnosis ADHD maka, harus dilakukan dengan pemantauan dan pengobatan orang profesional yang berkaitan dengan respon anak terhadap instruksi yang bersifat kombinasi.
Disgrafia dapat berdiri sendiri, atau dapat juga disertai dengan disleksia (gangguan kemampuan membaca) atau dengan gangguan belajar bahasa oral dan menulis (Oral and Written Language Disability (OWWL LD)) atau biasa disebut juga dengan gangguan pemilihan kata dalam berbahasa (Selective Leanguage Impairment (SLI)) .
Disleksia adalah kelainan yang mencakup pada membaca kata, penguraian kata, kelancaran membaca secara lisan, dan mengeja. Anak – anak dengan disleksia mengalami gangguan ortografi dan penguraian fonologi, menamai secara cepat dan fokus, mudah teralihkan atau kesulitan dalam berkonsentrasi dalam jangka waktu yang cukup lama.
Sedangkan Oral and Written Language Learning Disability (OWL LD) atau Selective Language Impaiment (SLI) adalah gangguan dalam berbahasa (memahami makna dari kata dan tata bahasa; mengekspresikan kata dan memahami fungsi dari kata; menememukan kata dalam memori; dan membuat kesimpulan dari teks). Kelainan ini mempengaruhi bahasa lisan dan tulisan. Anak – anak dengan gangguan bahasa akan mengalami gangguan tulisan dan membaca secara bersamaan.
Abdurahman (2003:223) menjelaskan bahwa kegunaan kemampuan menulis bagi para siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa memiliki kemampuan untuk menulis, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan ketiga jenis tugas tersebut. Sehingga, sangat penting untuk dilakukan terapi untuk meningkatkan kemampuan anak disgrafia dalam menulis agar anak dapat mencapai prestasi sesuai dengan target.
Untuk meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia tidaklah mudah. Guru harus memilih metode dan media yang sesuai dan menarik bagi anak, yang tidak membuat anak tertekan ataupun merasa bosan. Untuk itu, peneliti memilih metode multisensori yang memanfaatkan semua indera yang dimiliki untuk belajar. Metode ini tidak hanya membuat anak tertarik, tetapi juga membuat anak lebih mudah mengingat dan cepat mengerti serta memahami tulisan dan huruf.
Dalam catatan sejarah panjang pendidikan dinyatakaan bahwa pengalaman belajar yang didapat melalui semua indera sangat membantu dalam memperkuat ingatan. Dari panduan belajar (Montessori, 1912), menyatakan bahwa para pendidik telah mencoba menggunakan teknik multisensori untuk membuat pembelajaran lebih kreatif dan dapat lebih memotivasi peserrta didik. Istilah multisensori digunakan dalam aktivitas belajar yang menggabungkan dua atau lebih strategi sensori dalam penyampaian materi pembelajaran.
Departement for Education and Skills (DfES) (2004) mendefinisikan multisensori sebagai : penggunaan modalitas visual, audiotori, dan kinestetik secara bersamaan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Single Subject Research (SSR) pada satu anak disgrafia kelas V di SDN Percobaan Gedangan melalui pendekatan kuantitatif. Penelitian ini akan dilakukan dengan observasi, tes, dan wawancara.

1.2  Rumusan masalah
1.      Seberapa tinggi efektivitas penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia ?
2.      Bagaimana pengaruh penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan?
3.      Apa kendala penerapan metode multisensori dalam pembelajaran menulias anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan? .
1.3  Tujuan
1. Untuk mengetahui tingkat efekstifitas penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia.
2.   Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan.
3.   Untuk mengetahui kendala penerapan metode multisensori dalam pembelajaran menulias anak disgrafia di SDN Percobaan Gedangan.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Kajian Teori
Kemampuan setiap orang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran adalah sesuatu yang biasa jika ada seorang atau beberapa anak yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar tersebut yang menyebabkan terhambatnya prestasi dari anak.
Kesulitan belajar adalah suatu masalah neurologis pada otak yang mempengaruhi cara seseorang dalam mengambil, menyimpan ataupun menggunaan informasi. Kesulitan belajar merujuk pada salah satu kondisi yang mempengaruhi kekuatan dalam penerimaan, pengorganisasian, peneriaan, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal. Kesulitan belajar merupakan akibat dari melemahnya satu atau beberapa proses yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat ataupun belajar. Seperti halnya proses berbahasa, proses fonologi, proses pengamatan, proses kecepatan, mengingat, perhatian dan fungsi eksekutif.(diambil oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2002, disesuikan dengan definisi yang diambil oleh Disabilities Association of Canada and the BC Association of School Psychologists).
Rumini dkk (Irham dan Wiyani, 2013:254) mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat siswa mengalami hambatan – hambatan tertentu untuk mengikuti proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar secara optimal.
Sedangkan menurut Bauer, Keefe, and Shea (dalam Djaja & Sujarwanto, 2010: 77) menyebutkan bahwa “kesulitan belajar merupakan peristilahan yang dipergunakan pada siswa-siswa yang mempunyai kesulitan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar disebabkan karena kurangnya inteligensi, kelainan sensoris, ketidak beruntungan atau ketidak cukupan budaya atau bahasa”.
Menurut Blassic dan Jones (Irham dan Wiyani, 2013:253), kesulitan belajar yang dialami siswa menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademi yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya (prestasi aktual).
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar sehingga menyebabkan siswa tidak bisa mencpai prestasi belajar yang telah di targetkan.
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok (Abdurrahman, 2003:11), yaitu:
3.      Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
4.      Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities) yaitu kesulitan belajar yang mencakup adanya kegagalan – kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan – kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau matematika (diskalkulia).
Menurut Djaja (2010 : 78) disgrafia adalah kesulitan belajar yang berkaitan dengan masalah menulis. Kelainan ini diketahui secara mendasar dari perbedaan nilai antara nilai anak yang tinggi pada tes inteligensi dan nilai yang rendah pada nilai tes yang diperoleh dari menulis.
Seseorang dapat mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) karena beberapa sebab. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ronald D. Davis dalam bukunya “ The Gift Of Learning” (2003), yang menyatakan bahwa ada tujuh penyebab anak mengalami kesulitan belajar menulis, yaitu : kerusakan otak, cacat fisik, sengaja tidak belajar tulis menulis, disorientasi, tidak memahami instruksi, memiliki gambaran mental ganda, tidak cukup memiliki orientasi alam.
Beberapa individu dengan disgrafia mengalami kesulitan pada koordinasi motorik halus, namun ada pula yang fisiknya bergetar sehingga menciptakan tulisan yang buruk. Banyak ahli percaya bahwa “disgrafia melibatkan disfungsi dalam interaksi antara dua sistem otak utama yang memungkinkan seseorang kesulitan dalam menerjemahkan kata – kata ke bahasa tertulis”. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa insividu menggunakan suara untuk mengingat sesuatu.(Deuel, 2011)
5 – 20% siswa mengalami kesulitan belajar menulis.(Reynold, 2007). Studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 yang membahas tingkat prevalensi disgrafia di sekolah dasar mulai dari 5 – 33%. Dikatakan bahwa gangguan menulis menurun seiring dengan bertambahnya usia siswa. diperkirakan pada awal kelas dua, 37% siswa mengalami disgrafia, dan semakin menurun menjadi 17% pada akhir tahun.(Overveide, 2011)
Seorang siswa dengan gangguan menulis mungkin mengalami beberapa kesulitan berikut :
1)      Penulisan yang tidak konsisten dan terkadang tidak terbaca; mis., mencampur huruf huruf besar dan kecil, ukuran tidak teratur, bentuk atau kemiringan huruf
2)      Posisi tulisan atau huruf tidak konsisten tidak sesuai garis pada halaman
3)      Kata atau kalimat yang belum selesai, beberapa huruf atau kata hilang dan terjadi banyak kesalahan ejaan
4)      Kesulitan motorik halus, seperti ketidakmampuan meniru dan mengingat pola bentuk huruf
5)      Kecepatan penulisan yang tidak konsisten, kadang terlalu cepat
6)      Tingkat kemampuan menulis dan komunikasi tidak sama dengan tingkat kemampuan siswa lainnya.
7)      Genggaman terlalu kuat ketika menulis, posisi pergelangan tangan,badan atau kertas yang tidak biasa
8)      Rasa sakit atau kejang otot saat menulis
9)      Berbicara kepada diri sendiri saat menulis, atau dengan hati-hati melihat tangan saat menulis.
10)  Melakukan penolakan saat diminta menyelesaikan tugas tertulis.
Berdasarkan ciri – ciri diatas disgrafia dibagi menjadi 5 tipe (Solusi Gangguan Tulisan-Dysgraphia,2015), yaitu :
a.      Dyslexia Dysgraphia
Siswa dengan dyslexia dysgraphia secara tidak langsung memiliki tulisan yang tidak terbaca, namun hasil pekerjaan mereka yang disalin masih dapat dibaca. Siswa dengan dyslexia dysgraphia memiliki kemampuan mengeja yang buruk. Mereka lambat dalam menulis.
b.      Motor Dysgraphia
Motor dysgraphia terjadi karena keterampilan motorik halus yang buruk, tidak cekatan, otot yang lemah, atau kejanggalan yang tidak ditentukan. Hasil pekerjaan menulis seringkali berantakan, tidak terbaca, baik yang telah disalin ataupun yang asli. Perbaikan dapat dilakukan melalui usaha yang lebih keras dan lama. Genggaman yang terlalu kuat pada alat tulis, menghasilkan tulisan yang miring, namun ejaan tidak terganggu. Kecepatan dalam menulis juga rendah.
c.       Spatial Dysgraphia
Disgrafia spasial terjadi karena siswa tidak mengerti tentang spasi (jarak tulisan). Tulisan terkadang tidak terbaca baik setelah disalin atau asli, tetapi cara memegang alat tulis dan ejaan tidak terganggu. Siswa dengan disgrafia spasial harus berjuang keras untuk menulis dengan jarak antar kata dan tidak melewati batas garis.
d.      Phonological Dysgraphia
Disgrafia fonologi adalah gangguan menulis ejaan yang buruk dan berantakan. Fonem tidak dapat dihafalkan, hal tersebut menjadi kendala terbesar bagi anak dengan disgrafia fonologi.
e.       Lexical Dysgraphia
Karakteristik dari disgrafia lexical adalah gangguan pada ejaan normal pada pola tertentu yang hasilnya tidak teratur. Hal ini terjadi paling umum pada bahasa Inggris dan Prancis, karena bahasanya kurang fonetik dibandingkan dengan bahasa lain. Namun, bentuk disgrafia ini jarang terjadi.
Menulis merupakan suatu sarana berkomunikasi atau penyapaian pesan kepada orang lain secara tertulis yang diwujudkan dalam bentuk rangkaian lambang atau simbol grafis yang dapat dimengerti oleh penulis dan dipahami oleh orang lain yang membacanya. Kemampuan menulis sangat diperlukan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di masyarakat.
Menurut Imron Rosidi (2014:3) menulis adalah salah satu bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membantu orang lain (pembaca) berpikir.
H.G. Tarigan dalam Saddhono dan Slamet (2014:154) mengungkapkan bahwa menulis pada hakikatnya ialah melukiskan lambang – lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang – lambang grafis tersebut.
Abdurahman (2003:223) menjelaskan bahwa kegunaan kemampuan menulis bagi para siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa memiliki kemampuan untuk menulis, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan ketiga jenis tugas tersebut. Sehingga, sangat penting untuk dilakukan terapi untuk meningkatkan kemampuan anak disgrafia dalam menulis agar anak dapat mencapai prestasi sesuai dengan target.
Untuk meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia tidaklah mudah. Guru harus memilih metode dan media yang sesuai dan menarik bagi anak, yang tidak membuat anak tertekan ataupun merasa bosan. Sebagai contoh adalah metode multisensori yang memanfaatkan semua indera yang dimiliki anak untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.
Penerapan metode ini, dapat dilakukan dengan memanfaatkan barang yang sederhana seperti malam, pasir, huruf tiruan, “spacekid”.

2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam proses menulis tugas ini penulis menggali informasi dari penelitian-penelitian sebelumnya sebagai referensi penulisan, baik mengenai kekurangan atau kelebihan yang sudah ada. Selain dari penelitian yang sudah ada, penulis juga menggali informasi dari skripsi-skripsi maupun jurnal dalam rangka mendapatkan suatu informasi yang ada sebelumnya tentang teori yang berkaitan dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah.
1.         Skripsi Hendra Tri Susanto, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Psikologi tahun 2013, dengan judul “ Metode Pembelajaran Dengan Token Ekonomi Untuk MengatasiI Siswa Berkesulitan Belajar Disgrafia Di Madrasah Ibtidaiyah Desa Bangun Kecamatan Pungging Kabuaten Mojokerto”.
2.         Jurnal ilmu pendidikan Nurdayati Praptiningrum dan Purwandari, Dosen Pendidikan Luar Biasa, FIP, UNY tahun 2009, dengan judul “ Metode Multisensori Untuk Mengembangkan Kemampuan Membaca Anak Disleksia Di SD Inklusi.



BAB III
METODE PENELITIAN

            Metode penelitian merupakan ilmu yang mempelajari  tentang cara penelitian ilmu tentang alat-alat dalam suatu penelitian. Metode penelitian membeahas tentang kosep-konsep teoritis dari semua metode yang ada, kelemahan dan kelebihan yang dalam suatu karya ilmiah. Kemudian akan dilanjutkan dengan pemilihan metode yang akan digunakan dalam penelitian.

Metode penelitian mencakup beberapa hal yaitu prosedur dan teknik penelitian. Metode penelitian merupakan langkah penting untuk memecahkan masalah dalam  penelitian. Dengan menguasai metode penelitian, bukan hanya dapat memecahkan berbagai masalah penelitian, akan tetapi  juga dapat mengembangkan bidang keilmuan yang sedang diteliti. Selain itu, akan menambah penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan dunia pendidikan.

Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode multisensori dengan memanfaatkan semua indera yang dimiliki anak. Dengan menggunakan media spacekid, pasir, dan lilin malam.  Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif, metode Single Subject Research.

Lokasi penelitian
Penelitian akan dilakukan di SDN Percobaan Gedangan

Sasaran
Populasi : seluruh siswa kelas V di SDN Percobaan Gedangan
Sampel    : siswa disgrafia di kelas V di SDN Percobaan Gedangan

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan check list perkembangan kemampuan menulis. Check list terdiri dari 15 item.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara.
Observasi adalah suatu cara untuk mengadakan suatu evaluasi dengan jalan pengamatan dari pencatatan secara sistematis, logis, dan rasional mengenai fenomena yang diselidiki meliputi kegiatan pembelajaran siswa dan kemampuan siswa.
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data setelah seluruh responden atau sumber data terkumpul. Kegiatan dalam analisis data mengelompokkan data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data dari tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis.

Daftar Rujukan
Supporting Students With Learning Disabilities : A Guide For Teachers. (2011). Ministry of Education. (e – book), diakses pada 16 Oktober 2017








Tidak ada komentar:

Posting Komentar