Senin, 08 Januari 2018

RESUME RPS PENELITIAN PENDIDIKAN

PENELITIAN PENDIDIKAN
 “Dosen pengampu : Dr. Yuliyati, M.Pd”
Disusun oleh :
Indah Kulbirodiyah              (15010044028)
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017



HAKIKAT PENELITIAN
Aktivitas ilmiah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Mengajukan pertanyaan, lalu merancang dan menerapkan metode ilmiah untuk menjawab pertanyaan itu, dan akhirnya memperoleh jawaban dari pertanyaan itu.Metode ilmiah atau metode penelitian adalah prosedur atau langkah – langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu.jadi metode ilmiah adalah metode sistematis untuk menyusun ilmu pengetuan.sedangkan tenik penelitianadalah cara untuk melaksanakan metode penelitian. Metode penelitian biasanya mengacu pada bentuk – bentuk penelitia.
VALIDASI INTERNAL
Validitas internal umumnya merupakan tujuan pertama dalam metode eksperimental. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Apakah treatment/perlakuan eksperimental pada studi ini betul-betul dapat menimbulkan suatu perbedaan yang spesifik? Kualitas validitas internal adalah yakin bahwa variable terikat benar-benar ditentukan oleh variabel bebasnya. Misalnya kita akan meneliti pengaruh pendekatan lingkungan terhadap hasil belajar mahasiswa. Maka kualitas variabel internalnya tinggi apabila hasil belajar tersebut yakin disebabkan oleh pendekatan lingkungan.
Terdapat delapan faktor pengganggu/berpengaruh terhadap validitas internal, yaitu:
a.       Sejarah (history), ada kemungkinan terdapat peristiwa-peristiwa khusus yang terjadi diantara pengukuran yang pertama dan kedua dalam melengkapi variable eksperimental.
b.      Kematangan (maturation), proses-proses di dalam suatu penelitian merupakan fungsi waktu,misalnya (pertambahan usia, rasa lapar, kelelahan, atau kurangnya minat dan perhatian, dll).Oleh karena itu jangan terlalu lama apabila penelitiannya hanya sebentar karena individu senantiasa berkembang.
c.       Testing, efek testing terhadap terhadap test berikutnya, misalnya pretest.

d.      Instrumen, kesalahan dalam pengukuran mungkin disebabkan oleh kesalahan dalam pengkaliberasian instrumen, atau kesalahan di dalam pengamatan atau penimbangan (judge).
e.       Regresi statistik, kemungkinan gejala yang terjadi pada kelompok yang telah
diseleksi terdapat suatu skore yang ekstrim.
f.       Pemilihan sampel (selection), kesalahan pemilihan subjek yang akan dibandingkat
dapat menghasilkan sesuatu yang bias.
g.   Kematian sampel (Experimental Mortality), berkurangnya subjek atau sampel
h.  Pemilihan-kematangan interaksi, misalnya efek interaksi di antara variabel-
     variabel tersebut dapat menyebabkan kesalahan atau gangguan terhadap variabel 
     variabel eksperimen.
Dalam penelitian data memiliki kedudukan sangat penting karena dari data itulah variabel penelitian dapat digambarkan. Kesalahan dalam pengambilan data, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi pula kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Oleh karena itu, pengambilan data hendaknya dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami permasalahannya dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu untuk menjamin kualitas data yang dikumpulkannya, seorang peneliti harus terlebih dahulu memperoleh keyakinan bahwa instrumennya (alat pengambil data) memiliki validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan/keterpercayaan) yang memadai. Mengenai bagaimana caranya menguji validitas dan reliabilitas akan dijelaskan pada uraian berikutnya. Apabila peneliti tinggal menggunakan instrumen yang telah diakui validitas dan reliabilitsnya, maka peneliti tetap harus menginformasikan taraf validitas dan reliabilitasnya berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya atau berdasarkan konvensi-konvensi tertentu.

VALIDITAS EKSTERNAL
Tujuan kedua dari metode eksperimental adalah validitas eksternal yang menanyakan: Seberapa representatifkah penemuan-penemuan penelitian dan seberapa besarkah hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan terhadap subjek-subjek atau kondisi-kondisi yang sama? Dari contoh penelitian di atas, apabila perlakuan tersebut diterapkan pada kelas lain yang memiliki subjek dan kondisi yang sama dengan hasil yang sama maka validitas eksternalnya tinggi. Oleh karena itu seorang peneliti haruslah memiliki teknik sampling dan populasi yang baik. Kesalahan dalam menentukan populasi dan sampling akan menyebabkan kesalahan di dalam penarikan kesimpulan.
Terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap eksternal validity, yaitu
a.       Pengaruh interaksi seleksi yang bias dan variabel eksperimen
b.      Pengaruh interaksi pretest . Subjek yang diberi pretes akan memberikan respon
yang berbeda dengan subjek yang tidak diberi pretes.
c.       Pengaruh reaktif, dari prosedur eksperimental, pengaruh yang muncul dari setting
    eksperimental yang tidak akan terjadi pada setting noneksperimental.
d.      Pengaruh interferensi perlakuan yang berulang-ulang, menggunakan perlakuan yang berulang - ulang terhadap subjek yang sama akan berpengaruh terhadap perlakuan berikutnya karena pengaruh yang terdahulu tidak dapat dihilangkan.
Validitas eksternal merujuk pada data yang dihasilkan oleh suatu instrumen sesuai dengan informasi atau keterangan dari sumber lain yang terkait dengan variable penelitian yang  dimaksud. Karena melibatkan sumber lain yang letak atau keberadaannya di luar instrumen yang digunakan maka validitas yang diukur atau yang dihasilkan adalah validitas eksternal. Sebagai contoh, dalam suatu penelitian pendidikan seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana validitas eksternal instrumen yang dibuatnya? Pada penelitian tersebut dia membuat instrumen berupa soal tes sebanyak 40 buah. Kemudian dia mengujicobakan soal tersebut kepada sejumlah siswa yang diperkirakan sesuai dengan subyek penelitian. Hasil ujicoba tersebut selanjutnya dikorelasikan dengan nilai-nilai siswa tersebut yang diambil dari nilai rapor. Nilai koefosien korelasi yang diperoleh menunjukan derajat validitas eksternal instrumen tersebut. Rumus korelasi yang biasa digunakan adalah korelasi product moment dari Pearson.

KARAKTERISTIK METODE ILMIAH
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan-pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam table. Digambarkan dalam bentuk grafik atau dipetakan dan diproses dengan penghitungan statistika seperti korelasi dan regresi.
Umumnya terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah :
a.      Sistematik. Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
b.      Logis. Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bias dengan prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
c.       Empirik. Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :
d.      Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).
e.       Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
f.        Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan,melainkan ada penyebabnya.
g.      Replikatif. Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

MENDISKRIPSIKAN HUBUNGAN ANTAR VALIDASI
Validasi adalah konfirmasi melalui bukti-bukti pemeriksaan dan telah sesuai dengan tujuan pengujian.Validasi harus dilakukan terhadap metode non-standar dan metode yang dikembangkan laboratorium. Rentang ukur dan akurasi dapat diperoleh dari hasil validasi metode yang sesuai dengan kebutuhan customer. Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus dipenuhi. Laboratorium harus memvalidasi:
a.       Metode tidak baku
b.      Metode yang didesain/dikembangkan laboratorium
c.       Metode baku yang digunakan diluar lingkup yang dimaksud
d.      Metode baku yang dimodifikasi
e.       Metode baku untuk menegaskan dan mengkonfirmasi bahwa metode itu sesuai Untuk penggunaan yang dimaksudkan.

MENGIDENTIFIKASI LANGAH – LANGKAH PROSES
Secara umum merupakan penjabaran dari metode ilmiah dalam menerapkan pola pikir induktif dan deduktif
1.      Pemilihan tema, topik dan judul penelitian
2.      Identifikasi kebutuhan obyektif (latar belakang) penelitian
3.      Identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah
4.      Studi Pustaka/Telaah Teori
5.      Perumusan hipotesa
6.      Identifikasi variabel dan data penelitian
7.      Pemilihan alat pengumpul data
8.      Perancangan pengolahan data
9.      Penentuan sampling
10.  Pengumpulan data
11.  Pengolahan dan analisis data
12.  Penarikan kesimpulan
13.  Penyusunan laporan penelitian

MENDISKRIPSIKAN ETIKA DALAM PENELITIAN
Penelitian sebagai Pencarian Ilmiah yang berpola Pencarian berpola (disiplined inquiry), merupakan suatu prosedur pencarian dan pelaporan dengan menggunakan cara – cara dan sistematika tertentu, disertai penjelasan dan alasan yang kuat, antara lain :
a.       Objektivitas
Penelitian harus memiliki objektivitas baik dalam karakteristik maupun prosedurnya
b.      Ketepatan
Penelitian juga harus memiliki tingkat ketepatan (precision), secara teknis instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, desain penelitian, pengambilan sampel dan tekhnik analisis datanya tepat.
c.       Verifikasi
Penelitian dapat diverifikasi, dalam arti dapat dikonfirmasikan, direvisi dan diulang dengan cara yang sama atau berbeda.
d.      Empiris
Penelitian ditandai oleh sikap dan pendekatan empiris yang kuat.
e.       Penjelasan Ringkas
Penelitian mencoba memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan menyederhanakannya menjadi penjelasan yang ringkas.
f.       Penalaran Logis
Semua kegiatan penelitian menuntut penalaran logis
g.      Kesimpulan Kondisional
Kesimpulan hasil penelitian tidak bersifat absolut.
Dan Berikut adalah Etika yang harus ditaati :
1.      `Meminta kepada orang-orang, panitia, atau yang berwenang memberi
 persetujuan dan ijin.
2.      Ajaklah kawan-kawan sejawat terlibat dan berpartisipasi dalam penelitian.
3.      Terhadap yang tidak langsung terlibat, perhatikan pendapat mereka.
4.      Penelitian berlangsung terbuka dan transparan, saransaran diperhatikan, dan kawan sejawat diperbolehkan mengajukan kritik.
5.      Meminta izin eksplisit, untuk mengobservasi dan mencatat kegiatan mitra peneliti, tidak termasuk izin dari siswa apabila penelitian bertujuan meningkatkan pembelajaran.
6.      Minta izin untuk membuka dan mempelajari catatan resmi, surat menyurat dan dokumen. Membuat fotokopi hanya diperkenankan apabila diijinkan.
7.      Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya relevan, akura dan adil.
8.      Wawancara, pertemuan atau tukar pendapat tertulis hendaknya memperhatikan pandangan lain, relevan, akurat dan adil.
9.      Rujukan langsung, rujukan observasi, rekaman, keputusan, kesimpulan, atau rekomendasi hendaknya mendapat izin atau otorisasi kutipan.

PENGERTIAN SINGLE SUBJECT RESEARCH (SSR)
Single Subject Research (Penelitian Dengan Subyek Tunggal) adalah penelitian eksperimen yangdilaksanakan untuk mengetahuiseberapa besar pengaruh dari suatu perlakuan (treatment) yang diberikankepada subyek secara berulang-ulangdalam waktu tertentu.( Tawney and Gas, 1984)
Strategi penelitian yang dikembangkan untuk mendokumentasikan perubahan tingkah lakusubyek secara individual. Dalam penelitian SSR dikenal istilah “target behavior”. Istilah target behavior untuk penelitian dalammodifikasi perilaku mencakup pikiran perasaanatau perbuatan yang dapat dicatat dan diukur. Oleh karena itu, domain kognitif, psikomotor,dan afektif dalam taksonomi Bloom dapat dijadikan target behavior.

DESAIN SINGLE SUBJECT RESEARCH (SSR)
Desain penelitian eksperimen secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: desain kelompok (group design) dan desain subyek tunggal (single subject design). Desain kelompok memfokuskan pada data yg berasal dari kelompokindividu yang digunakan untuk membanding kinerja (performance)antar kelompok individu yg pada umumnya menggunakan analisis data skor rata-rata (mean) dari variabel terikat yang diteliti. Desain subyek tunggal memfokuskan pada data individu sebagai subyek penelitian penggunaan skor individu lebih utama daripada skor rata-rata kelompok pengukuran target behavior dilakukanberulang-ulang dengan periode waktu tertentu(perminggu/hari/jam). Perbandingan tidak dilakukan antar individu atau kelompok tetapidibandingkan pada subyek yang sama dalam kondisi yang berbeda(kondisi base line & intervensi).`
Komponen Analisa Data
Analisis data dengan `metode analisis visual` ada beberapa perhatian :
1.      Banyak skor tiap kondisi
2.      Banyaknya variabel terikat (yang ingindiubah)
3.      Tingkat stabilitas dan perubahan leveldata dalam suatu kondisi atau antar kondisi
4.      Arah perubahan dalam kondisi maupun antar kondisi

METODE SINGLE SUBJECT RESEARH DESIGN (SSRD) DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Selanjutnya dilakukan analisis data penelitian SSRD. Kegiatan analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis visual. Menurut Juang  (2005. hlm. 96-99), menyebutkan beberapa hal yang menjadi perhatian peneliti adalah.
1.      Panjang Kondisi
Panjangnya kondisi dilihat dari banyaknya data point atau skor pada setiap kondisi. Untuk panjang kondisi baseline secara umum bisa digunakan tiga atau lima data point. Yang menjadi pertimbangan utama bukan banyaknya data point, melainkan tingkat kestabilannya.
2.      Perubahan Variabel
Perubahan ini akan berguna untuk mengetahui adanya pengaruh variabel bebas (intervensi) terhadap variabel terikat (target behavior) secara jelas, peneliti harus terfokus pada perubahan satu terget behavior dua kondisi. Yang akan dilakukan dalam kegiatan ini, bahwa peneliti akan memperhatikan apakah ada satu target kemandirian yang berubah sepanjang fase intervensi (B) dan perubahan tersebut akan dibandingkan dengan fase baseline (A). Sehingga perubahan pada phase baseline dan fase intervensi benar-benar berada pada satu variabel terikat. Informasi perubahan ini mengindikasikan adanya pengaruh intervensi terhadap target behavior yang akan terlihat pada tampilan grafik.
3.      Tingkat Stabilitas dan Level
Level menunjukkan besar kecilnya data yang berada pada skala ordinat (sumbu Y). Ada dua jenis level yaitu level (tingkat) stabilitas dan level (tingkat) perubahannya. Tingkat stabilitas (level stability) menunjukkan derajat variasi atau besar kecilnya rentang kelompok data kemandirian ATGS yang diamati. Jika rentang datanya kecil atau tingkat variasinya rendah maka data dikatakan stabil. Jika 80% – 90% data kemandirian ATGS masih berada pada 15% di atas dan di bawah mean, maka data dikatakan stabil. Mean levelt untuk data kemandirian ATGS di suatu kondisi dihitung dengan cara menjumlahkan semua data yang ada pada ordinat dan dibagi dengan banyaknya data. Kemudian garis mean untuk kemandirian ATGS ini digambar secara pararel terhadap absis. Untuk menentukan tingkat stabilitas data kemandirian ATGS akan digunakan persentase penyimpangan dari mean. Cara menghitung tingkat perubahan (level change) adalah (1) menentukan berapa besar data point (skor) pertama dan terakhir dalam suatu kondisi, (2) kurangi data yang besar dengan data yang kecil, (3) tentukan apakah selisihnya menunjukkan arah yang membaik (therapeutic) atau memburuk (contratherapeutic) sesuai dengan tujuan intervensi atau pengajarannya. Selanjutnya untuk menghitung tingkat perubahan level data pada dua kondisi yang berbeda misalnya kondisi baseline dengan intervensi. Untuk menghitung tingkat perubahan level data antar dua kondisi ini dilakukan dengan cara: (1) menentukan data point (skor) terakhir pada kondisi pertama dan menentukan data point (skor) pertama pada kondisi kedua, (2) kurangi data point yang besar dengan yang kecil, dan (3) menentukan apakah perubahan level tersebut membaik atau memburuk sesuai dengan tujuan intervensi atau pengajarannya.

4.      Menentukan Arah Kecendrungan
Selanjutnya kecenderungan arah (trend/slope) data pada suatu grafik akan memberikan gambaran kemandirian ATGS yang sedang diteliti. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi antaralevel dan trend, sehingga dapat menentukan pengaruh kondisi (intervensi) yang dikontrol. Kecenderungan arah grafik (trend) menunjukkan perubahan setiap data path (jejak) dari sesi ke sesi (waktu ke waktu). Ada tiga macam kecenderungan arah grafik (trend) yitu, (1) meningkat, (2) mendatar, dan (3) menurun. Masing-masing maknanya tergantung pada tujuan intervensinya. Ada dua cara untuk menentukan kecenderungan arah grafik (trend) yaitu; metode freehand dan metode split-middle. Metode freehanddilakukan dengan cara mengamati langsung terhadap data pointpada suatu kondisi kemudian menarik garis lurus yang akan membagi data point menjadi dua bagian. Sedangkan metode split-middle tujuannya untuk menentukan kecenderungan arah grafik berdasarkan median data point nilai ordinatnya.

5.      Analisis dalam Kondisi
Analisis perubahan dalam kondisi adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi baseline atau kondisi intervensi, sedangkan komponen yang akan dianalisis meliputi komponen kemandirian ATGS yang dibicarakan di atas akan menunjukkan tingkat stabilitas, kecenderungan arah, dan tingkat perubahan (level change). Kondisi ini menggambarkan arah peningkatan atau penurunan kemampuan kemandirian pada grafik yang ditampilkan.

6.      Analisis Antar Kondisi
Peneliti menganalisis perubahan antar kondisi, data kemandirian ATGS yang menunjukkan stabil harus mendahului kondisi yang akan di analisis. Misalnya ketika data baseline bervariasi (tidak stabil) yang dilihat pada grafik, maka akan mengalami kesulitan untuk menginterpretasi pengaruh intervensi terhadap variabel terikat. Selain aspek stabilitas, ada atau tidak pengaruh suatu intervensi terhadap variabel terikat akan berhubungan dengan aspek perubahan level, dan besar kecilnya overlap yang terjadi antara dua kondisi

7.      Uji Konsensus
Uji konsensus dilaksanakan dalam bentuk seminar melalui kegiatan KKKS dan KKG tingkat kota Padang dengan audiensi guru SLB yang mengajar ATGS. Selanjutnya juga disajikan dalam bentuk seminar Internasional dengan audiensi yang lebih luas dalam peningktan professional keilmuan bimbingan dan konseling.
Berdasarkan uji konsensional melalui seminar tingkat lokal dan tingkat Internasional dilakukan perbaikan terhadap model sesuai dengan saran-saran yang diperoleh dari peserta seminar. Dengan demikian disusun model temuan yang telah diuji dan dapat dipertahankan serta dapat dipublikasi sebagai temuan penelitian.

METODE PENELITIAN
a.       Pengertian Metode Penelitian
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
b.      Karakteristik Metode Penelitian
1.      Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
2.      Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
3.      Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
4.      Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
c.       Langkah – langkah Metode Ilmiah
1.      Masalah: berawal dari adanya masalah yang dapat digali dari sumber empiris dan
teoretis, sebagai suatu aktivitas pendahuluan. Agar masalah ditemukan dengan baik memerlukan fakta-fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang diperoleh dari mengkaji berbagai literatur relevan.
2.      Rumusan masalah: Masalah yang ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah, dan umumnya rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
3.      Pengajuan hipotesis: Masalah yang dirumuskan relevan dengan hipotesis yang diajukan. Hipotesis digali dari penelusuran referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya.
4.      Metode/strategi pendekatan penelitian: Untuk menguji hipotesis maka peneliti memilih metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai
5.      Menyusun instrumen penelitian: Langkah setelah menentukan metode/strategi pendekatan, maka peneliti merancang instrumen penelitian sebagai alat pengumpulan data, misalnya angket, pedoman wawancara, atau pedoman observasi, dan melakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen agar instrumen memang tepat dan layak untuk mengukur variabel penelitian.
6.      Mengumpulkan dan menganalisis data: Data penelitian dikumpulkan dengan Instrumen yang kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan alat-alat uji statistik yang relevan dengan tujuan penelitian atau pengujian secara kualitatif.
7.      Langkah terakhir adalah membuat simpulan dari data yang telah dianalisis. Melalui kesimpulan maka akan terjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan dapat dibuktikan kebenarannya.
VARIABEL PENELITIAN
Pada intinya penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antara variabel, sedangkan data-data yang diperoleh dari lapangan merupakan unsur-unsur yang akan mencantumkan apakah variabel-variabel tersebut memiliki hubungan atau tidak.
Dalam hubungan antara variabel ini ada beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui,yaitu:
a.       Hubungan simetris
Hubungan simetris terjadi apabila :
1.      Kedua variabel adalah akibat dari suatu vaktor yang sama, misalnya meningkatnya penggunaan internet dikalangan masyarakat dengan, naiknya jumlah oplah surat kabar, merupakan dua variabel yang tidak saling mempengaruhi, namun diakibatkan oleh faktor yang sama, yaitu meningkatnya kebutuhan informasi ditengah masyarakat.
2.      Kedua variabel berkaitan secara fungsional, misalnya hubungan antara petani dengan cangkul, hubungan guru dengan murid, hubungan dokter dengan pasien, dan sebagainya.
3.      Kedua variabel mempunyai hubungan karena kebetulan semata-mata, misalnya secara kebetulan semua murid berkacamata gemar membaca. Hubungan antara variabel murid berkacamata dengan gemar membaca adalah hubungan simetris.
b.      Hubungan timbal balik, (reciprocal),
Hubungan timbal balik merupakan hubungan antar dua variabel yang saling timbal bali, maksudnya adalah satu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat terhadap varibel lainnya, demikian pula sebaliknya, sehingga tidak dapat ditentukan varibel mana yang menjadi sebab atau variabel mana yang menjadi akibat. misalnya dalam waktu variabel x mempengaruhi y, dan dalam waktu lain variabel y dapat mempengaruhi x.
Contoh, hubungan antara motivasi belajar dengan minat membaca, motivasi belajar dapat mempengaruhi minat membaca, demikian pula sebaliknya, minat membaca dapat mempengaruhi motivasi belajar.
Contoh lain, penenaman modal (investment) mendatangkan keuntungan, dan sebaliknyak keuntungan akan memungkinkan timbulnya penanaman modal. Berdasarkan contoh-contoh ini, variabel terpengaruh pada berubah menjadi variabel pengaruh di waktu lain, demikian pula sebaliknya.
c.       Hubungan asimetris
Hubungan asimetris adalah hubungan antara variabel, yakni suatu variabel mempengaruhi variabel lain, namun sifatnya tidak timbal balik. Pada dasarnya inti pokok analisis-analisis sosial terletak pada hubungan asimetris ini. Misalnya, hubungan antara keamanan suatu negara dengan penanaman modal asing. Keamanan suatu negara akan mempengaruhi tingkat penanaman modal (investasi) asing dinegara tersebut. Tingginya angka pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kriminalitas di masyarakat; tingkat pendidikan mempengaruhi pola hidup sehat; tingkat pendapatan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, dan sebagainya.

IDENTIFIKASI MASALAH
Konsep identifikasi masalah (problem identification) adalah proses dan hasil pengenalan masalah atau inventarisasi masalah. Dengan kata lain, identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting di antara proses lain. Masalah penelitian (research problem) akan menentukan kualitas suatu penelitian, bahkan itu juga menentukan apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum bisa ditemukan melalui studi literatur (literature review) atau lewat pengamatan lapangan (observasi, survey), dan sebagainya.
Masalah penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan yang mempersoalkan suatu variabel atau hubungan antara satu atau lebih variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel itu sendiri dapat didefinisikan sebagai konsep yang memuat nilai bervariasi, pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Dalam suatu studi yang menggunakan alur-pikir deduktif kerapkali ditampilkan definisi operasional variabel, dan dalam penelitian kualitatif variabel itu seringkali disebut konsep, misalnya definisi konseptual.
Beberapa hal yang dijadikan sebagai sumber masalah adalah:
1.      Bacaan. Sumber bacaan bisa dari jurnal-jurnal penelitian yang berasal dari laporan hasil-hasil penelitian yang dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baik tentu saja mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan tema penelitian bersangkutan. Suatu penelitian sering tidak mampu memecahkan semua masalah yang telah teridentifikasi karena ada berbagai keterbatasan peneliti atau ruang lingkup penelitian itu. Hal ini menuntut adanya penelitian lebih lanjut dengan mengangkat masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selain jurnal penelitian, bacaan lain yang bersifat umum juga dapat dijadikan sumber masalah misalnya buku-buku bacaan terutama buku bacaan yang mendeskripsikan gejala-gejala dalam suatu kehidupan yang menyangkut dimensi sains dan teknologi atau bacaan yang berupa tulisan yang dimuat dimedia cetak.
2.      Pertemuan Ilmiah. Masalah penelitian dapat diperoleh melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti seminar, konferensi nasional dan internasional diskusi. Lokakarya, simposium dan sebagainya. Dengan pertemuan ilmiah seperti itu akan muncul berbagai permasalahan yang memerlukan jawaban melalui penelitian.
3.      Pernyataan Pemegang Kekuasaan (Otoritas). Orang yang mempunyai kekuasaan atau otoritas cenderung menjadi figure publik yang dianut oleh orang-orang yang ada dibawahnya. Sesuatu yang diungkapkan oleh pemegang otoritas tersebut dapat dijadikan sumber masalah. Pemegang otoritas di sini dapat mencakup aspek formal dan non formal.
4.      Observasi (pengamatan). Pengamatan yang dilakukan seseorang peneliti tentang sesuatu yang direncanakan ataupun yang tidak direncanakan, baik secara sepintas ataupun dalam jangka waktu yang cukup lama, terstruktur atau tidak terstruktur, itu dapat melahirkan suatu masalah. Contoh: Seorang pendidik menemukan masalah dengan melihat (mengamati) sikap dan perilaku peserta didiknya dalam proses belajar mengajar.
5.      Wawancara dan Angket. Melalui wawancara kepada masyarakat mengenai sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat menemukan masalah apa yang sekarang dihadapi masyarakat tertentu. Demikian juga dengan menyebarkan angket kepada masyarakat akan dapat menemukan apa sebenarnya masalah yang dirasakan masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan biasanya sebagai studi awal untuk mengadakan penjajakan tentang permasalahan yang ada di lapangan dan juga untuk menyakinkan adanya permasalahan-permasalahan di masyarakat.
6.      Pengalaman. Pengalaman dapat dikatakan sebagai guru yang paling baik. Tetapi tidak semua pengalaman yang dimiliki seseorang (peneliti) itu selalu positif, tetapi kadang-kadang sebaliknya. Pengalaman seseorang baik yang diperolehya sendiri maupun dari orang (kelompok) lain, dapat dijadikan sumber masalah yang dapat dijawab melalui penelitian.
7.      Intuisi. Secara intuitif manusia dapat melahirkan suatu masalah. Masalah penelitian tersebut muncul dalam pikiran manusia pada saat-saat yang tidak terencanakan.
Ketujuh faktor di atas dapat saling mempengaruhi dalam melahirkan suatu pokok permasalahan penelitian, dan itu dapat juga berdiri sendiri dalam mencetuskan suatu masalah. Jadi, untuk mengindentifikasi masalah dapat dilakukan melalui sumber-sumber bacaan yang memungkinkan lahir masalah-masalah penelitian seperti di atas. Sumber-sumber keilmuan yang membawa masalah-masalah tersebut dapat saling berinteraksi dalam menentukan masalah penelitian, dapat juga melalui salah satu sumber saja.
Setelah masalah-masalah penelitian dapat diindentifikasi, selanjutnya perlu dipilih dan ditentukan peneliti masalah-masalah yang akan diangkat dalam suatu rancangan penelitian. Untuk memilih dan menentukan masalah yang layak untuk diteliti, perlu mempertimbangkan kriteria problematika yang tertata baik.

RUMUSAN MASALAH
Suatu rumusan masalah itu ditandai dengan pertanyaan penelitian, yang umumnya disusun dalam bentuk kalimat tanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi arah kemana sebenarnya penelitian akan dibawa, dan apa saja sebenarnya yang ingin dikaji/dicari tahu oleh si peneliti.
Masalah yang dipilih haruslah menampilkan “researchable”, dalam artian bahwa suatu masalah itu dapat diselidiki secara ilmiah. Masalah tersebut perlu dirumuskan secara jelas agar dengan demikian perumusan masalahnya jelas. Peneliti diharapkan dapat mengetahui variabel-variabel atau faktor-faktor apa saja yang akan diukur, dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk mencapai tujuan penelitian. Dengan rumusan masalah yang jelas akan dapat dijadikan penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan yang dinyatakan oleh Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen (1990:23) bahwa salah satu karakteristik formulasi pertanyaan penelitian yang baik, yaitu pertanyaan penelitian harus clear. Artinya pertanyaan penelitian yang diajukan hendaknya disusun dengan kalimat yang jelas, tidak membingungkan. Dengan pertanyaan yang jelas akan mudah mengidentifikasi variabel-variabel atau faktor-faktor apa yang ada dalam pertanyaan penelitian tersebut, dan berikutnya memudahkan dalam mendefenisikan konsep atau variabel dalam pertanyaan penelitian. Dalam memberikan defenisi konseptual atau variable tersebut dapat dengan cara-cara: (1) constitutive definition, yakni dengan pendekatan kamus (dictionary approach); (2), contoh atau by example; dan (3) operational definition, yakni mendefenisikan istilah, konsep atau variabel penelitian secara spesifik, terinci dan operasional.
Berdasarkan pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah penelitian, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat tidak berbelit-belit yang dapat membingungkan pembaca. Masalah dirumuskan dengan kalimat yang pendek tapi bermakna.
2.      Rumusan masalah hendaknya ditungkan dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat disajikan apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, bukan pernyataan.
3.      Rumusan masalah hendaknya jelas dan kongkrit. Artinya, dengan rumusan masalah yang jelas dan kongkrit itu akan memungkinkan peneliti secara eksplisit terarah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan: apa yang akan diselidiki, siapa yang akan diselidiki, mengapa diselidiki, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana melakukannya, dan apa tujuan yang diharapkan.
4.      Masalah hendaknya dirumuskan secara operasional. Sifat operasional dari rumusan masalah akan memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel atau konsep-konsep dan sub-subnya yang ada dalam penelitian dan bagaimana peneliti dapat mengukurnya.
5.      Rumusan masalah hendaknya mampu member petunjuk tenang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam masalah penelitian tersebut.
6.      Perumusan masalah haruslah dibatasi ruang-lingkupnya sehingga itu memungkinkan penarikan simpulan yang jelas dan tegas. Kalau itu disertai rumusan masalah yang bersifat umum, hendaknya disertai penjabaran-penjabaran yang spesifik dan operasional.

TUJUAN PERUMUSAN MASALAH
1.      Mencari sesuatu dalam kerangka pemuasan akademis seseorang
2.      Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yg baru
3.      Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya
4.      Memenuhi keinginan sosial
5.      Meyediakan sesuatu yang bermanfaat
http://ppisb.unsyiah.ac.id/berita/identifikasi-masalah-batasan-masalah-dan-rumusan-masalah
etih.staff.ipb.ac.id/files/2011/07/Perumusan-Masalah-Penelitian.pdf

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
a.       Pengertian Teori
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian adalah mencari teori-teori hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian ( Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Adanya teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk medapatkan data.
Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Seperti sinyatakan oleh Neumen (2003). Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramlkan fenomena.
b.      Tinjauan pustaka
Dalam setiap makalah dan proposal penelitian tentu harus di buat secara urut dan sistematis, dimana bagian-bagian dalam setiap penyusunan harus terdapat beberapa bagian. Salah satu bagian terpenting dalam menyusun usulan makalah tersebut yaitu harus terdapat bab tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka sendiri merupakan bagian dalam penyusunan sebuah laporan penelitian maupun proposal karena dalam bab ini akan diungkap pemikiran serta teori-teori yang akan dijadikan landasan dalam melakukan sebuah eksperimen.
c.       Tujuan tinjauan pustaka
1.      Menemukan penjelasan yang dapat membantu menafsirkan data penelitian
2.      Menghindari pendekatan yang steril
3.      Mengetahui apa yang pernah di lakukan dalam penelitian yang sebelumnya
4.      Membatasi masalah dan ruang lingkup penelitian
d.      Kerangka Berfikir
Uma sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptuan tentang bagaimana teori berhbungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secra teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. 
e.       Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat petanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan fakta-fakta empris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

f.       Pengertian Variabel
Kerlinger ( 1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstrak atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya, tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari  suatu nilai yang berbeda. Dengan demikian variabel merupakan suatu yang bervariasi.
Berdasarkan pengertian-pengetian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
g.      Macam-Macam Variabel
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :
a.       Variabel Independen : variabel ini sering disebut variabel stimulus. dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen( terikat ).
b.      Variabel Dependen : sering disebut variabel output. Dalam bahasa Indonesia disebut variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
c.       Variabel Moderator : variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabelini disebut juga variabel independen dua.
d.      Variabel Intervening : variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang menjadi tidak langsung dan tidak dapat diamatidan diukur.
e.       Variabel Kontrol : variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.
h.      Populasi
Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri dari atas: objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitia untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
i.        Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar