PENELITIAN PENDIDIKAN
“Dosen pengampu : Dr. Yuliyati, M.Pd”
Disusun oleh :
Indah Kulbirodiyah (15010044028)
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI
SURABAYA
2017
HAKIKAT PENELITIAN
Aktivitas
ilmiah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Mengajukan
pertanyaan, lalu merancang dan menerapkan metode ilmiah untuk menjawab
pertanyaan itu, dan akhirnya memperoleh jawaban dari pertanyaan itu.Metode
ilmiah atau metode penelitian adalah prosedur atau langkah – langkah dalam
mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu.jadi metode ilmiah adalah metode
sistematis untuk menyusun ilmu pengetuan.sedangkan tenik penelitianadalah cara
untuk melaksanakan metode penelitian. Metode penelitian biasanya mengacu pada
bentuk – bentuk penelitia.
VALIDASI INTERNAL
Validitas internal umumnya merupakan tujuan pertama dalam metode
eksperimental. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Apakah treatment/perlakuan eksperimental pada studi ini betul-betul dapat
menimbulkan suatu perbedaan yang spesifik? Kualitas validitas
internal adalah yakin bahwa variable terikat benar-benar ditentukan oleh
variabel bebasnya. Misalnya kita akan meneliti pengaruh pendekatan lingkungan
terhadap hasil belajar mahasiswa. Maka kualitas variabel internalnya tinggi
apabila hasil belajar tersebut yakin disebabkan oleh pendekatan lingkungan.
Terdapat delapan faktor pengganggu/berpengaruh terhadap validitas
internal, yaitu:
a. Sejarah (history), ada kemungkinan terdapat peristiwa-peristiwa khusus
yang terjadi diantara pengukuran yang pertama dan kedua dalam melengkapi
variable eksperimental.
b. Kematangan (maturation), proses-proses di dalam suatu penelitian
merupakan fungsi waktu,misalnya (pertambahan usia, rasa lapar, kelelahan, atau
kurangnya minat dan perhatian, dll).Oleh karena itu jangan terlalu lama apabila
penelitiannya hanya sebentar karena individu senantiasa berkembang.
c. Testing, efek testing terhadap terhadap test berikutnya, misalnya
pretest.
d. Instrumen, kesalahan dalam pengukuran mungkin disebabkan oleh kesalahan
dalam pengkaliberasian instrumen, atau kesalahan di dalam pengamatan atau
penimbangan (judge).
e. Regresi statistik, kemungkinan gejala yang terjadi pada kelompok yang
telah
diseleksi terdapat suatu skore yang ekstrim.
f. Pemilihan sampel (selection), kesalahan pemilihan subjek yang akan
dibandingkat
dapat menghasilkan sesuatu yang bias.
g. Kematian sampel
(Experimental Mortality), berkurangnya subjek atau sampel
h. Pemilihan-kematangan
interaksi, misalnya efek interaksi di antara variabel-
variabel tersebut dapat
menyebabkan kesalahan atau gangguan terhadap variabel
variabel eksperimen.
Dalam penelitian data memiliki kedudukan sangat
penting karena dari data itulah variabel penelitian dapat digambarkan.
Kesalahan dalam pengambilan data, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi pula
kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Oleh karena itu, pengambilan data
hendaknya dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami permasalahannya dan
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu untuk menjamin kualitas
data yang dikumpulkannya, seorang peneliti harus terlebih dahulu memperoleh
keyakinan bahwa instrumennya (alat pengambil data) memiliki validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan/keterpercayaan)
yang memadai. Mengenai bagaimana caranya menguji validitas dan reliabilitas
akan dijelaskan pada uraian berikutnya. Apabila peneliti tinggal menggunakan
instrumen yang telah diakui validitas dan reliabilitsnya, maka peneliti tetap
harus menginformasikan taraf validitas dan reliabilitasnya berdasarkan
penelitian-penelitian sebelumnya atau berdasarkan konvensi-konvensi tertentu.
VALIDITAS EKSTERNAL
Tujuan kedua dari metode eksperimental adalah validitas eksternal yang menanyakan: Seberapa representatifkah penemuan-penemuan
penelitian dan seberapa besarkah hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan
terhadap subjek-subjek atau kondisi-kondisi yang sama? Dari contoh
penelitian di atas, apabila perlakuan tersebut diterapkan pada kelas lain yang
memiliki subjek dan kondisi yang sama dengan hasil yang sama maka validitas
eksternalnya tinggi. Oleh karena itu seorang peneliti haruslah memiliki teknik
sampling dan populasi yang baik. Kesalahan dalam menentukan populasi dan
sampling akan menyebabkan kesalahan di dalam penarikan kesimpulan.
Terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap eksternal validity,
yaitu
a. Pengaruh interaksi seleksi yang bias dan variabel eksperimen
b. Pengaruh interaksi pretest . Subjek yang diberi pretes akan memberikan
respon
yang berbeda dengan subjek yang tidak diberi pretes.
c. Pengaruh reaktif, dari prosedur eksperimental, pengaruh yang muncul
dari setting
eksperimental yang tidak akan
terjadi pada setting noneksperimental.
d. Pengaruh interferensi perlakuan yang berulang-ulang, menggunakan
perlakuan yang berulang - ulang terhadap subjek yang sama akan berpengaruh
terhadap perlakuan berikutnya karena pengaruh yang terdahulu tidak dapat
dihilangkan.
Validitas eksternal merujuk pada data yang
dihasilkan oleh suatu instrumen sesuai dengan informasi atau keterangan dari
sumber lain yang terkait dengan variable penelitian yang dimaksud. Karena melibatkan sumber lain yang
letak atau keberadaannya di luar instrumen yang digunakan maka validitas yang
diukur atau yang dihasilkan adalah validitas
eksternal. Sebagai contoh, dalam suatu penelitian pendidikan seorang
peneliti ingin mengetahui bagaimana validitas eksternal instrumen yang
dibuatnya? Pada penelitian tersebut dia membuat instrumen berupa soal tes
sebanyak 40 buah. Kemudian dia mengujicobakan soal tersebut kepada sejumlah
siswa yang diperkirakan sesuai dengan subyek penelitian. Hasil ujicoba tersebut
selanjutnya dikorelasikan dengan nilai-nilai siswa tersebut yang diambil dari
nilai rapor. Nilai koefosien korelasi yang diperoleh menunjukan derajat
validitas eksternal instrumen tersebut. Rumus korelasi yang biasa digunakan
adalah korelasi product moment dari
Pearson.
KARAKTERISTIK METODE ILMIAH
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang
cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan
mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang
diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan
(definisi) dan pengamatan-pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan
pengukuran dan perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan
terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau
populasi manusia. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam
table. Digambarkan dalam bentuk grafik atau dipetakan dan diproses dengan
penghitungan statistika seperti korelasi dan regresi.
Umumnya
terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah :
a.
Sistematik. Berarti suatu
penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan
kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
b.
Logis. Suatu
penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta
empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah
bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bias dengan
prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari
berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir
untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat
umum.
c.
Empirik. Artinya
suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan
atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.
Landasan empirik ada tiga yaitu :
d.
Hal-hal empirik selalu memiliki
persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).
e.
Hal-hal empirik selalu berubah-ubah
sesuai dengan waktu.
f.
Hal-hal empirik tidak bisa secara
kebetulan,melainkan ada penyebabnya.
g.
Replikatif. Artinya
suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain
dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria,
dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi
operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.
MENDISKRIPSIKAN HUBUNGAN
ANTAR VALIDASI
Validasi
adalah konfirmasi melalui bukti-bukti pemeriksaan dan telah sesuai dengan
tujuan pengujian.Validasi harus dilakukan terhadap metode non-standar dan
metode yang dikembangkan laboratorium. Rentang ukur dan akurasi dapat diperoleh
dari hasil validasi metode yang sesuai dengan kebutuhan customer.
Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif
bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus dipenuhi. Laboratorium
harus memvalidasi:
a. Metode tidak baku
b. Metode yang didesain/dikembangkan laboratorium
c. Metode baku yang digunakan diluar lingkup yang
dimaksud
d. Metode baku yang dimodifikasi
e. Metode baku untuk menegaskan dan
mengkonfirmasi bahwa metode itu sesuai Untuk penggunaan yang dimaksudkan.
MENGIDENTIFIKASI
LANGAH –
LANGKAH PROSES
Secara umum merupakan penjabaran dari metode ilmiah dalam
menerapkan pola pikir induktif dan deduktif
1.
Pemilihan tema, topik dan judul penelitian
2.
Identifikasi kebutuhan obyektif (latar belakang)
penelitian
3.
Identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah
4.
Studi Pustaka/Telaah Teori
5.
Perumusan hipotesa
6.
Identifikasi variabel dan data penelitian
7.
Pemilihan alat pengumpul data
8.
Perancangan pengolahan data
9.
Penentuan sampling
10. Pengumpulan data
11. Pengolahan dan analisis data
12. Penarikan kesimpulan
13. Penyusunan laporan penelitian
MENDISKRIPSIKAN
ETIKA DALAM PENELITIAN
Penelitian sebagai Pencarian Ilmiah yang berpola Pencarian berpola
(disiplined inquiry), merupakan suatu prosedur pencarian dan pelaporan dengan
menggunakan cara – cara dan sistematika tertentu, disertai penjelasan dan
alasan yang kuat, antara lain :
a. Objektivitas
Penelitian harus memiliki
objektivitas baik dalam karakteristik maupun prosedurnya
b. Ketepatan
Penelitian juga harus memiliki
tingkat ketepatan (precision), secara teknis instrumen pengumpulan datanya
harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, desain penelitian,
pengambilan sampel dan tekhnik analisis datanya tepat.
c.
Verifikasi
Penelitian dapat diverifikasi,
dalam arti dapat dikonfirmasikan, direvisi dan diulang dengan cara yang sama
atau berbeda.
d.
Empiris
Penelitian ditandai oleh sikap dan
pendekatan empiris yang kuat.
e.
Penjelasan Ringkas
Penelitian mencoba memberikan
penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan menyederhanakannya menjadi
penjelasan yang ringkas.
f.
Penalaran Logis
Semua kegiatan penelitian menuntut
penalaran logis
g.
Kesimpulan Kondisional
Kesimpulan hasil penelitian tidak
bersifat absolut.
Dan
Berikut adalah Etika yang harus ditaati :
1. `Meminta kepada orang-orang, panitia, atau
yang berwenang memberi
persetujuan dan ijin.
2. Ajaklah kawan-kawan sejawat terlibat dan
berpartisipasi dalam penelitian.
3. Terhadap yang tidak langsung terlibat,
perhatikan pendapat mereka.
4. Penelitian berlangsung terbuka dan transparan,
saransaran diperhatikan, dan kawan sejawat diperbolehkan mengajukan kritik.
5. Meminta izin eksplisit, untuk mengobservasi
dan mencatat kegiatan mitra peneliti, tidak termasuk izin dari siswa apabila
penelitian bertujuan meningkatkan pembelajaran.
6. Minta izin untuk membuka dan mempelajari
catatan resmi, surat menyurat dan dokumen. Membuat fotokopi hanya diperkenankan
apabila diijinkan.
7. Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya
relevan, akura dan adil.
8. Wawancara, pertemuan atau tukar pendapat
tertulis hendaknya memperhatikan pandangan lain, relevan, akurat dan adil.
9. Rujukan langsung, rujukan observasi, rekaman,
keputusan, kesimpulan, atau rekomendasi hendaknya mendapat izin atau otorisasi
kutipan.
PENGERTIAN SINGLE SUBJECT RESEARCH (SSR)
Single
Subject Research (Penelitian Dengan Subyek Tunggal) adalah penelitian
eksperimen yangdilaksanakan untuk mengetahuiseberapa besar pengaruh dari suatu
perlakuan (treatment) yang diberikankepada subyek secara berulang-ulangdalam
waktu tertentu.( Tawney and Gas, 1984)
Strategi
penelitian yang dikembangkan untuk mendokumentasikan perubahan tingkah
lakusubyek secara individual. Dalam penelitian SSR dikenal istilah “target
behavior”. Istilah target behavior untuk penelitian dalammodifikasi perilaku
mencakup pikiran perasaanatau perbuatan yang dapat dicatat dan diukur. Oleh
karena itu, domain kognitif, psikomotor,dan afektif dalam taksonomi Bloom dapat
dijadikan target behavior.
DESAIN SINGLE SUBJECT RESEARCH (SSR)
Desain
penelitian eksperimen secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu: desain kelompok (group design) dan desain subyek tunggal (single subject
design). Desain kelompok memfokuskan pada data yg berasal dari kelompokindividu
yang digunakan untuk membanding kinerja (performance)antar kelompok individu yg
pada umumnya menggunakan analisis data skor rata-rata (mean) dari variabel
terikat yang diteliti. Desain subyek tunggal memfokuskan pada data individu
sebagai subyek penelitian penggunaan skor individu lebih utama daripada skor
rata-rata kelompok pengukuran target behavior dilakukanberulang-ulang dengan
periode waktu tertentu(perminggu/hari/jam). Perbandingan tidak dilakukan antar
individu atau kelompok tetapidibandingkan pada subyek yang sama dalam kondisi
yang berbeda(kondisi base line & intervensi).`
Komponen
Analisa Data
Analisis data dengan `metode analisis
visual` ada beberapa perhatian :
1. Banyak
skor tiap kondisi
2. Banyaknya
variabel terikat (yang ingindiubah)
3. Tingkat
stabilitas dan perubahan leveldata dalam suatu kondisi atau antar kondisi
4. Arah
perubahan dalam kondisi maupun antar kondisi
METODE
SINGLE SUBJECT RESEARH DESIGN (SSRD) DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
Selanjutnya dilakukan analisis data penelitian SSRD.
Kegiatan analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis visual.
Menurut Juang (2005. hlm. 96-99), menyebutkan beberapa hal yang menjadi
perhatian peneliti adalah.
1. Panjang
Kondisi
Panjangnya kondisi dilihat dari banyaknya data point
atau skor pada setiap kondisi. Untuk panjang kondisi baseline secara
umum bisa digunakan tiga atau lima data point. Yang menjadi pertimbangan utama
bukan banyaknya data point, melainkan tingkat kestabilannya.
2. Perubahan Variabel
Perubahan ini akan berguna untuk mengetahui adanya
pengaruh variabel bebas (intervensi) terhadap variabel terikat (target
behavior) secara jelas, peneliti harus terfokus pada perubahan satu terget
behavior dua kondisi. Yang akan dilakukan dalam kegiatan ini, bahwa peneliti
akan memperhatikan apakah ada satu target kemandirian yang berubah sepanjang
fase intervensi (B) dan perubahan tersebut akan dibandingkan dengan fase
baseline (A). Sehingga perubahan pada phase baseline dan fase
intervensi benar-benar berada pada satu variabel terikat. Informasi perubahan
ini mengindikasikan adanya pengaruh intervensi terhadap target behavior yang
akan terlihat pada tampilan grafik.
3. Tingkat Stabilitas dan Level
Level menunjukkan besar kecilnya data yang berada pada
skala ordinat (sumbu Y). Ada dua jenis level yaitu level (tingkat) stabilitas
dan level (tingkat) perubahannya. Tingkat stabilitas (level stability)
menunjukkan derajat variasi atau besar kecilnya rentang kelompok data
kemandirian ATGS yang diamati. Jika rentang datanya kecil atau tingkat
variasinya rendah maka data dikatakan stabil. Jika 80% – 90% data kemandirian
ATGS masih berada pada 15% di atas dan di bawah mean, maka data dikatakan
stabil. Mean levelt untuk data kemandirian ATGS di suatu
kondisi dihitung dengan cara menjumlahkan semua data yang ada pada ordinat dan
dibagi dengan banyaknya data. Kemudian garis mean untuk kemandirian ATGS ini
digambar secara pararel terhadap absis. Untuk menentukan tingkat stabilitas
data kemandirian ATGS akan digunakan persentase penyimpangan dari mean. Cara
menghitung tingkat perubahan (level change) adalah (1) menentukan berapa besar
data point (skor) pertama dan terakhir dalam suatu kondisi, (2) kurangi data
yang besar dengan data yang kecil, (3) tentukan apakah selisihnya menunjukkan
arah yang membaik (therapeutic) atau memburuk (contratherapeutic) sesuai dengan
tujuan intervensi atau pengajarannya. Selanjutnya untuk menghitung tingkat
perubahan level data pada dua kondisi yang berbeda misalnya kondisi baseline dengan
intervensi. Untuk menghitung tingkat perubahan level data antar dua kondisi ini
dilakukan dengan cara: (1) menentukan data point (skor)
terakhir pada kondisi pertama dan menentukan data point (skor)
pertama pada kondisi kedua, (2) kurangi data point yang besar
dengan yang kecil, dan (3) menentukan apakah perubahan level tersebut membaik
atau memburuk sesuai dengan tujuan intervensi atau pengajarannya.
4. Menentukan Arah Kecendrungan
Selanjutnya kecenderungan arah (trend/slope) data pada
suatu grafik akan memberikan gambaran kemandirian ATGS yang sedang diteliti.
Hal ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi antaralevel dan trend,
sehingga dapat menentukan pengaruh kondisi (intervensi) yang dikontrol.
Kecenderungan arah grafik (trend) menunjukkan perubahan setiap
data path (jejak) dari sesi ke sesi (waktu ke waktu). Ada tiga
macam kecenderungan arah grafik (trend) yitu, (1) meningkat, (2)
mendatar, dan (3) menurun. Masing-masing maknanya tergantung pada tujuan
intervensinya. Ada dua cara untuk menentukan kecenderungan arah grafik (trend)
yaitu; metode freehand dan metode split-middle. Metode freehanddilakukan
dengan cara mengamati langsung terhadap data pointpada suatu
kondisi kemudian menarik garis lurus yang akan membagi data point menjadi
dua bagian. Sedangkan metode split-middle tujuannya untuk
menentukan kecenderungan arah grafik berdasarkan median data point nilai
ordinatnya.
5. Analisis dalam Kondisi
Analisis perubahan dalam kondisi adalah menganalisis
perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi baseline atau
kondisi intervensi, sedangkan komponen yang akan dianalisis meliputi komponen
kemandirian ATGS yang dibicarakan di atas akan menunjukkan tingkat stabilitas,
kecenderungan arah, dan tingkat perubahan (level change). Kondisi ini
menggambarkan arah peningkatan atau penurunan kemampuan kemandirian pada grafik
yang ditampilkan.
6. Analisis Antar Kondisi
Peneliti menganalisis perubahan antar kondisi, data
kemandirian ATGS yang menunjukkan stabil harus mendahului kondisi yang akan di
analisis. Misalnya ketika data baseline bervariasi (tidak
stabil) yang dilihat pada grafik, maka akan mengalami kesulitan untuk
menginterpretasi pengaruh intervensi terhadap variabel terikat. Selain aspek
stabilitas, ada atau tidak pengaruh suatu intervensi terhadap variabel terikat
akan berhubungan dengan aspek perubahan level, dan besar kecilnya overlap yang
terjadi antara dua kondisi
7. Uji Konsensus
Uji konsensus dilaksanakan dalam bentuk seminar
melalui kegiatan KKKS dan KKG tingkat kota Padang dengan audiensi guru SLB yang
mengajar ATGS. Selanjutnya juga disajikan dalam bentuk seminar Internasional
dengan audiensi yang lebih luas dalam peningktan professional keilmuan
bimbingan dan konseling.
Berdasarkan uji konsensional melalui seminar tingkat
lokal dan tingkat Internasional dilakukan perbaikan terhadap model sesuai
dengan saran-saran yang diperoleh dari peserta seminar. Dengan demikian disusun
model temuan yang telah diuji dan dapat dipertahankan serta dapat dipublikasi
sebagai temuan penelitian.
METODE
PENELITIAN
a. Pengertian
Metode Penelitian
Metode ilmiah atau proses ilmiah
merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis
dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat
berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu
hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori
ilmiah.
b. Karakteristik
Metode Penelitian
1. Bersifat
kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk
mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
2. Bersifat
logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat
secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
3. Bersifat
obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan
kondisi yang sama pula.
4. Bersifat
konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan
teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
c. Langkah
– langkah Metode Ilmiah
1. Masalah:
berawal dari adanya masalah yang dapat digali dari sumber empiris dan
teoretis, sebagai suatu
aktivitas pendahuluan. Agar masalah ditemukan dengan baik memerlukan
fakta-fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang diperoleh dari
mengkaji berbagai literatur relevan.
2. Rumusan
masalah: Masalah yang ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah,
dan umumnya rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
3. Pengajuan
hipotesis: Masalah yang dirumuskan relevan dengan hipotesis yang diajukan.
Hipotesis digali dari penelusuran referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil
penelitian sebelumnya.
4. Metode/strategi
pendekatan penelitian: Untuk menguji hipotesis maka peneliti memilih
metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai
5. Menyusun
instrumen penelitian: Langkah setelah menentukan metode/strategi pendekatan,
maka peneliti merancang instrumen penelitian sebagai alat pengumpulan data,
misalnya angket, pedoman wawancara, atau pedoman observasi, dan melakukan pengujian
validitas dan reliabilitas instrumen agar instrumen memang tepat dan layak
untuk mengukur variabel penelitian.
6. Mengumpulkan
dan menganalisis data: Data penelitian dikumpulkan dengan Instrumen yang
kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan alat-alat
uji statistik yang relevan dengan tujuan penelitian atau pengujian secara
kualitatif.
7. Langkah
terakhir adalah membuat simpulan dari data yang telah dianalisis. Melalui
kesimpulan maka akan terjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan dapat
dibuktikan kebenarannya.
VARIABEL PENELITIAN
Pada intinya
penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antara variabel, sedangkan data-data
yang diperoleh dari lapangan merupakan unsur-unsur yang akan mencantumkan
apakah variabel-variabel tersebut memiliki hubungan atau tidak.
Dalam
hubungan antara variabel ini ada beberapa jenis hubungan yang perlu
diketahui,yaitu:
a. Hubungan
simetris
Hubungan
simetris terjadi apabila :
1. Kedua
variabel adalah akibat dari suatu vaktor yang sama, misalnya meningkatnya
penggunaan internet dikalangan masyarakat dengan, naiknya jumlah oplah surat
kabar, merupakan dua variabel yang tidak saling mempengaruhi, namun diakibatkan
oleh faktor yang sama, yaitu meningkatnya kebutuhan informasi ditengah
masyarakat.
2. Kedua
variabel berkaitan secara fungsional, misalnya hubungan antara petani dengan
cangkul, hubungan guru dengan murid, hubungan dokter dengan pasien, dan
sebagainya.
3. Kedua
variabel mempunyai hubungan karena kebetulan semata-mata, misalnya secara
kebetulan semua murid berkacamata gemar membaca. Hubungan antara variabel murid
berkacamata dengan gemar membaca adalah hubungan simetris.
b. Hubungan
timbal balik, (reciprocal),
Hubungan timbal balik merupakan hubungan
antar dua variabel yang saling timbal bali, maksudnya adalah satu variabel
dapat menjadi sebab dan juga akibat terhadap varibel lainnya, demikian pula
sebaliknya, sehingga tidak dapat ditentukan varibel mana yang menjadi sebab
atau variabel mana yang menjadi akibat. misalnya dalam waktu variabel x mempengaruhi
y, dan dalam waktu lain variabel y dapat mempengaruhi x.
Contoh, hubungan antara motivasi belajar
dengan minat membaca, motivasi belajar dapat mempengaruhi minat membaca,
demikian pula sebaliknya, minat membaca dapat mempengaruhi motivasi belajar.
Contoh lain, penenaman modal
(investment) mendatangkan keuntungan, dan sebaliknyak keuntungan akan
memungkinkan timbulnya penanaman modal. Berdasarkan contoh-contoh ini, variabel
terpengaruh pada berubah menjadi variabel pengaruh di waktu lain, demikian pula
sebaliknya.
c.
Hubungan asimetris
Hubungan asimetris adalah hubungan
antara variabel, yakni suatu variabel mempengaruhi variabel lain, namun
sifatnya tidak timbal balik. Pada dasarnya inti pokok analisis-analisis sosial
terletak pada hubungan asimetris ini. Misalnya, hubungan antara keamanan suatu
negara dengan penanaman modal asing. Keamanan suatu negara akan mempengaruhi
tingkat penanaman modal (investasi) asing dinegara tersebut. Tingginya angka
pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kriminalitas di masyarakat; tingkat
pendidikan mempengaruhi pola hidup sehat; tingkat pendapatan mempengaruhi pola
konsumsi masyarakat, dan sebagainya.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Konsep
identifikasi masalah (problem identification) adalah proses dan hasil
pengenalan masalah atau inventarisasi masalah. Dengan kata lain, identifikasi
masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting
di antara proses lain. Masalah penelitian (research problem) akan menentukan
kualitas suatu penelitian, bahkan itu juga menentukan apakah sebuah kegiatan
bisa disebut penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum bisa
ditemukan melalui studi literatur (literature review) atau lewat pengamatan
lapangan (observasi, survey), dan sebagainya.
Masalah
penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan yang mempersoalkan suatu
variabel atau hubungan antara satu atau lebih variabel pada suatu fenomena.
Sedangkan variabel itu sendiri dapat didefinisikan sebagai konsep yang memuat
nilai bervariasi, pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Dalam suatu studi
yang menggunakan alur-pikir deduktif kerapkali ditampilkan definisi operasional
variabel, dan dalam penelitian kualitatif variabel itu seringkali disebut
konsep, misalnya definisi konseptual.
Beberapa hal yang dijadikan sebagai
sumber masalah adalah:
1.
Bacaan. Sumber bacaan bisa dari
jurnal-jurnal penelitian yang berasal dari laporan hasil-hasil penelitian yang
dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baik tentu saja
mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan
tema penelitian bersangkutan. Suatu penelitian sering tidak mampu memecahkan
semua masalah yang telah teridentifikasi karena ada berbagai keterbatasan
peneliti atau ruang lingkup penelitian itu. Hal ini menuntut adanya penelitian
lebih lanjut dengan mengangkat masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selain
jurnal penelitian, bacaan lain yang bersifat umum juga dapat dijadikan sumber
masalah misalnya buku-buku bacaan terutama buku bacaan yang mendeskripsikan
gejala-gejala dalam suatu kehidupan yang menyangkut dimensi sains dan teknologi
atau bacaan yang berupa tulisan yang dimuat dimedia cetak.
2.
Pertemuan Ilmiah. Masalah penelitian
dapat diperoleh melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti seminar, konferensi
nasional dan internasional diskusi. Lokakarya, simposium dan sebagainya. Dengan
pertemuan ilmiah seperti itu akan muncul berbagai permasalahan yang memerlukan
jawaban melalui penelitian.
3.
Pernyataan Pemegang Kekuasaan
(Otoritas). Orang yang mempunyai kekuasaan atau otoritas cenderung menjadi
figure publik yang dianut oleh orang-orang yang ada dibawahnya. Sesuatu yang
diungkapkan oleh pemegang otoritas tersebut dapat dijadikan sumber masalah.
Pemegang otoritas di sini dapat mencakup aspek formal dan non formal.
4.
Observasi (pengamatan). Pengamatan
yang dilakukan seseorang peneliti tentang sesuatu yang direncanakan ataupun
yang tidak direncanakan, baik secara sepintas ataupun dalam jangka waktu yang
cukup lama, terstruktur atau tidak terstruktur, itu dapat melahirkan suatu masalah.
Contoh: Seorang pendidik menemukan masalah dengan melihat (mengamati) sikap dan
perilaku peserta didiknya dalam proses belajar mengajar.
5.
Wawancara dan Angket. Melalui
wawancara kepada masyarakat mengenai sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat
menemukan masalah apa yang sekarang dihadapi masyarakat tertentu. Demikian juga
dengan menyebarkan angket kepada masyarakat akan dapat menemukan apa sebenarnya
masalah yang dirasakan masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan biasanya
sebagai studi awal untuk mengadakan penjajakan tentang permasalahan yang ada di
lapangan dan juga untuk menyakinkan adanya permasalahan-permasalahan di
masyarakat.
6.
Pengalaman. Pengalaman dapat
dikatakan sebagai guru yang paling baik. Tetapi tidak semua pengalaman yang
dimiliki seseorang (peneliti) itu selalu positif, tetapi kadang-kadang
sebaliknya. Pengalaman seseorang baik yang diperolehya sendiri maupun dari
orang (kelompok) lain, dapat dijadikan sumber masalah yang dapat dijawab
melalui penelitian.
7.
Intuisi. Secara intuitif manusia
dapat melahirkan suatu masalah. Masalah penelitian tersebut muncul dalam
pikiran manusia pada saat-saat yang tidak terencanakan.
Ketujuh faktor
di atas dapat saling mempengaruhi dalam melahirkan suatu pokok permasalahan
penelitian, dan itu dapat juga berdiri sendiri dalam mencetuskan suatu masalah.
Jadi, untuk mengindentifikasi masalah dapat dilakukan melalui sumber-sumber
bacaan yang memungkinkan lahir masalah-masalah penelitian seperti di atas.
Sumber-sumber keilmuan yang membawa masalah-masalah tersebut dapat saling
berinteraksi dalam menentukan masalah penelitian, dapat juga melalui salah satu
sumber saja.
Setelah
masalah-masalah penelitian dapat diindentifikasi, selanjutnya perlu dipilih dan
ditentukan peneliti masalah-masalah yang akan diangkat dalam suatu rancangan
penelitian. Untuk memilih dan menentukan masalah yang layak untuk diteliti,
perlu mempertimbangkan kriteria problematika yang tertata baik.
RUMUSAN MASALAH
Suatu
rumusan masalah itu ditandai dengan pertanyaan penelitian, yang umumnya disusun
dalam bentuk kalimat tanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi arah
kemana sebenarnya penelitian akan dibawa, dan apa saja sebenarnya yang ingin
dikaji/dicari tahu oleh si peneliti.
Masalah yang
dipilih haruslah menampilkan “researchable”, dalam artian bahwa suatu masalah
itu dapat diselidiki secara ilmiah. Masalah tersebut perlu dirumuskan secara
jelas agar dengan demikian perumusan masalahnya jelas. Peneliti diharapkan
dapat mengetahui variabel-variabel atau faktor-faktor apa saja yang akan
diukur, dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk mencapai tujuan
penelitian. Dengan rumusan masalah yang jelas akan dapat dijadikan penuntun
bagi langkah-langkah selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan yang
dinyatakan oleh Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen (1990:23) bahwa salah
satu karakteristik formulasi pertanyaan penelitian yang baik, yaitu pertanyaan
penelitian harus clear. Artinya pertanyaan penelitian yang diajukan hendaknya
disusun dengan kalimat yang jelas, tidak membingungkan. Dengan pertanyaan yang
jelas akan mudah mengidentifikasi variabel-variabel atau faktor-faktor apa yang
ada dalam pertanyaan penelitian tersebut, dan berikutnya memudahkan dalam
mendefenisikan konsep atau variabel dalam pertanyaan penelitian. Dalam
memberikan defenisi konseptual atau variable tersebut dapat dengan cara-cara:
(1) constitutive definition, yakni dengan pendekatan kamus (dictionary approach);
(2), contoh atau by example; dan (3) operational definition, yakni
mendefenisikan istilah, konsep atau variabel penelitian secara spesifik,
terinci dan operasional.
Berdasarkan
pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam merumuskan masalah penelitian, antara lain adalah sebagai berikut:
1.
Rumusan masalah hendaknya singkat
dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat tidak
berbelit-belit yang dapat membingungkan pembaca. Masalah dirumuskan dengan
kalimat yang pendek tapi bermakna.
2.
Rumusan masalah hendaknya ditungkan
dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat disajikan apabila
dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, bukan pernyataan.
3.
Rumusan masalah hendaknya jelas dan
kongkrit. Artinya, dengan rumusan masalah yang jelas dan kongkrit itu akan
memungkinkan peneliti secara eksplisit terarah untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan: apa yang akan diselidiki, siapa yang akan diselidiki,
mengapa diselidiki, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana melakukannya, dan apa
tujuan yang diharapkan.
4.
Masalah hendaknya dirumuskan secara
operasional. Sifat operasional dari rumusan masalah akan memungkinkan peneliti
memahami variabel-variabel atau konsep-konsep dan sub-subnya yang ada dalam
penelitian dan bagaimana peneliti dapat mengukurnya.
5.
Rumusan masalah hendaknya mampu
member petunjuk tenang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam masalah penelitian
tersebut.
6.
Perumusan masalah haruslah dibatasi
ruang-lingkupnya sehingga itu memungkinkan penarikan simpulan yang jelas dan
tegas. Kalau itu disertai rumusan masalah yang bersifat umum, hendaknya
disertai penjabaran-penjabaran yang spesifik dan operasional.
TUJUAN PERUMUSAN
MASALAH
1.
Mencari sesuatu dalam
kerangka pemuasan akademis seseorang
2.
Memuaskan perhatian
serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yg baru
3.
Meletakkan dasar untuk
memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk
penelitian selanjutnya
4.
Memenuhi keinginan
sosial
5.
Meyediakan sesuatu yang
bermanfaat
http://ppisb.unsyiah.ac.id/berita/identifikasi-masalah-batasan-masalah-dan-rumusan-masalah
etih.staff.ipb.ac.id/files/2011/07/Perumusan-Masalah-Penelitian.pdf
etih.staff.ipb.ac.id/files/2011/07/Perumusan-Masalah-Penelitian.pdf
LANDASAN
TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
a. Pengertian
Teori
Setelah
masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian
adalah mencari teori-teori hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai
landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian ( Sumadi Suryabrata, 1990).
Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang
kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Adanya teoritis ini merupakan
ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk medapatkan data.
Setiap
penelitian selalu menggunakan teori. Seperti sinyatakan oleh Neumen (2003).
Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang
berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi
hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan
meramlkan fenomena.
b. Tinjauan
pustaka
Dalam
setiap makalah dan proposal penelitian tentu harus di buat secara urut dan
sistematis, dimana bagian-bagian dalam setiap penyusunan harus terdapat
beberapa bagian. Salah satu bagian terpenting dalam menyusun usulan makalah tersebut
yaitu harus terdapat bab tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka sendiri merupakan
bagian dalam penyusunan sebuah laporan penelitian maupun proposal karena dalam
bab ini akan diungkap pemikiran serta teori-teori yang akan dijadikan landasan
dalam melakukan sebuah eksperimen.
c. Tujuan
tinjauan pustaka
1. Menemukan
penjelasan yang dapat membantu menafsirkan data penelitian
2. Menghindari
pendekatan yang steril
3. Mengetahui
apa yang pernah di lakukan dalam penelitian yang sebelumnya
4. Membatasi
masalah dan ruang lingkup penelitian
d. Kerangka
Berfikir
Uma
sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka
berfikir merupakan model konseptuan tentang bagaimana teori berhbungan dengan
berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secra teoritis pertautan antara
variabel yang akan diteliti.
e. Hipotesis
Perumusan
hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah
peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat petanyaan. Dikatakan sementara
karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum
didasarkan fakta-fakta empris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
f. Pengertian
Variabel
Kerlinger
( 1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstrak atau sifat yang akan
dipelajari. Diberikan contoh misalnya, tingkat aspirasi, penghasilan,
pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, dan lain-lain. Di
bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu
sifat yang diambil dari suatu nilai yang
berbeda. Dengan demikian variabel merupakan suatu yang bervariasi.
Berdasarkan
pengertian-pengetian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian
adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang
mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.
g. Macam-Macam
Variabel
Menurut
hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam
variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :
a. Variabel
Independen : variabel ini sering disebut variabel stimulus. dalam bahasa
Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel
yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel
dependen( terikat ).
b. Variabel
Dependen : sering disebut variabel output. Dalam bahasa Indonesia disebut
variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
c. Variabel
Moderator : variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen
dengan dependen. Variabelini disebut juga variabel independen dua.
d. Variabel
Intervening : variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara
variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang menjadi tidak
langsung dan tidak dapat diamatidan diukur.
e. Variabel
Kontrol : variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan
variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang
tidak diteliti.
h. Populasi
Populasi
adalah wilayah generelisasi yang terdiri dari atas: objek dan subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitia
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
i.
Sampel
Sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua
yang ada pada populasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar