Senin, 08 Januari 2018

journal resume

Pengaruh Penggunaan Pendekatan Multisensori untuk Mengajar Siswa Dengan Kesulitan Belajar
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan Pendekatan Multi-Sensory untuk mengajar siswa dengan ketidakmampuan belajar pada prestasi siswa kelas enam dalam matematika di sekolah umum Yordania. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, sebuah pre / post-test dibangun untuk mengukur prestasi siswa dalam matematika. Tes terdiri dari dua puluh item pada matematika. Sampel penelitian terdiri dari (117) siswa kelas enam di Sekolah Al Rasoul dan sekolah Fatima. Sampel penelitian dibagi menjadi empat kelompok (dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol). Kelompok eksperimen diajarkan menggunakan pendekatan multi-sensorik sementara kelompok kontrol diajar menggunakan pendekatan saat ini. Sampel penelitian adalah (62) siswa dalam kelompok eksperimen dan (55) siswa pada kelompok kontrol. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk tes matematika pra dan pasca tes matematika untuk kelompok eksperimen dan kontrol. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam post-test antara kontrol dan kelompok eksperimen yang mendukung kelompok eksperimen. Peneliti mengusulkan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan pentingnya keterlibatan orang tua terhadap prestasi siswa dalam bahasa Inggris seperti melakukan penelitian lebih lanjut mengenai populasi lain dan untuk waktu yang lebih lama.

Struktur Teknik Multisensori dalam Pola Membaca dan Belajar-dalam Beberapa Pertimbangan
Studi ini menyelidiki apakah program multisensori '(' M-POW'R - Program Penulisan dan Membaca Multisensori (Muscat, program pembelajaran membaca awal yang tidak dipublikasikan) yang diterapkan di sekolah swasta Maltese oleh guru yang menggunakannya sebagai strategi inklusif. Pelajaran ini menggunakan model pembelajaran interaktif yang diusulkan oleh Johnston (1994, 1996, 2006, 2007 dan 2009) dan mengeksplorasi sejauh mana program literasi awal multisensori ini. Penelitian ini didukung oleh sejumlah filosofi dan kerangka kerja, yaitu pendekatan model sosial untuk anak berkebutuhan khusus (Barnes & Mercer, 1997; Barton & Oliver; 1997; Oliver, 1992; 1996), Adams 'Model of Reading (1990), Piagetian epistemologi genetik (Schwebel & Raph, 1973), konsep perancah Vygotskian, (Steffe & Gale, 1995; Ormrod, 2007) dan desain konsep pembelajaran universal dan strategi inklusif (Falzon, 2010; Hegarty, 1993; Mengon & Hart, 1991; Pugach 1995; Tod, 1999; Rose & Meyer 2002; Turnbull, Turnbull & Wehmeyer, 2010). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada kesemuanya sembilan orang guru yang bekerja di sekolah tersebut. Guru sepakat bahwa mereka merasakan program multisensori sebagai program yang menunjang pembelajaran untuk masing - masing dari 16 tema di kuesioner. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari program 'M-POW'R.
Pola belajar lebih dominan bersifat teknis dan berurutan, diikuti dengan pertemuan dan ketelitian masing-masing. Perbedaan statistik hanya ditemukan di empat tema.


Provinsi British Columbia
Mendukung Siswa dengan Kesulitan Belajar
Panduan untuk Guru
September 2011

Apa Itu Kesulitan Belajar?
Kesulitan belajar adalah suatu masalah neurologis pada otak yang mempengaruhi cara seseorang dalam mengambil, menyimpan ataupun menggunaan informasi. Kesulitan belajar merujuk pada salah satu kondisi yang mempengaruhi kekuatan dalam penerimaan, pengorganisasian, peneriaan, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal. Kesulitan belajar merupakan akibat dari melemahnya satu atau beberapa proses yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat ataupun belajar. Seperti halnya proses berbahasa, proses fonologi, proses pengamatan, proses kecepatan, mengingat, perhatian dan fungsi eksekutif.(diambil oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2002, disesuikan dengan definisi yang diambil oleh Disabilities Association of Canada and the BC Association of School Psychologists).
Seorang siswa dengan gangguan menulis mungkin mengalami beberapa kesulitan berikut :
1)        Penulisan yang tidak konsisten dan terkadang tidak terbaca; mis., mencampur huruf huruf besar dan kecil, ukuran tidak teratur, bentuk atau kemiringan huruf
2)        Posisi tulisan atau huruf tidak konsisten tidak sesuai garis pada halaman
3)        Kata atau kalimat yang belum selesai, beberapa huruf atau kata hilang dan terjadi banyak kesalahan ejaan
4)        Kesulitan motorik halus, seperti ketidakmampuan meniru dan mengingat pola bentuk huruf
5)        Kecepatan penulisan yang tidak konsisten, kadang terlalu cepat
6)        Tingkat kemampuan menulis dan komunikasi tidak sama dengan tingkat kemampuan siswa lainnya.
7)        Genggaman terlalu kuat ketika menulis, posisi pergelangan tangan,badan atau kertas yang tidak biasa
8)        Rasa sakit atau kejang otot saat menulis
9)        Berbicara kepada diri sendiri saat menulis, atau dengan hati-hati melihat tangan saat menulis.
10)    Melakukan penolakan saat diminta menyelesaikan tugas tertulis.

Open Journal of Social Sciences, 2015, 3, 35-47
Diterbitkan Online Agustus 2015 di SciRes. http://www.scirp.org/journal/jss

Pengembangan Tulisan Tangan Dysgraphic dan Pendidikan Inklusif: Peran
Konseling Interdisipliner
Ida M. Bosga-Bangau 1,2 , Jurjen Bosga 3,4 , Ruud GJ Meulenbroek 4,5

Konsep pendidikan inklusi mulai diterapan di Belanda. Hal tersebut merupakan dampak dari adanya anak berkesulitan belajar menulis yang ada di kelas 1, 2, dan 3. Guru, terapis fisik anak-anak dan psikolog menggunakan kombinasi menulis, pengukuran kinematik untuk penilaian dan konseling interdisipliner untuk diagnosis dan keputusan pengobatan untuk anak dengan kesulitan belajar menulis.
Metode yang digunakan adalah memberikan tugas menulis loop motor yang digunakan untuk mengeksplorasi pengembangan motor non-linguistik. Hasilnya adalah assesment sangatlah penting untuk menentukan kemampuan anak. Selain itu, juga digunakan untuk menentukan prosedur pembelajaran yang sesuai dengan anak serta perawatan yang diperlukan oleh anak.

HANYA FAKTA (Informasi yang diberikan oleh The International Dyslexia Association)

DYSGRAPHIA
Dysgraphia berarti kesulitan dengan tulisan tangan. Disgraphia dapat mengganggu kemampuan seorang siswa untuk mengekspresikan gagasan. Anak dengan disgrafia kesulitan untuk menyinkronkan banyak fungsi mental sekaligus: organisasi, memori, perhatian, keterampilan motorik, dan berbagai aspek kemampuan bahasa. 
Para ahli percaya bahwa disgraphia melibatkan disfungsi dalam interaksi antara dua sistem otak utama yang memungkinkan seseorang untuk menerjemahkan lisan menjadi bahasa tulisan, yaitu suara ke symbol.
Ada 5 tipe Dysgraphia (Solusi Gangguan Tulisan-Dysgraphia,2015), yaitu :
a.                  Dyslexia Dysgraphia
Siswa dengan dyslexia dysgraphia secara tidak langsung memiliki tulisan yang tidak terbaca, namun hasil pekerjaan mereka yang disalin masih dapat dibaca. Siswa dengan dyslexia dysgraphia memiliki kemampuan mengeja yang buruk. Mereka lambat dalam menulis.
b.                  Motor Dysgraphia
Motor dysgraphia terjadi karena keterampilan motorik halus yang buruk, tidak cekatan, otot yang lemah, atau kejanggalan yang tidak ditentukan. Hasil pekerjaan menulis seringkali berantakan, tidak terbaca, baik yang telah disalin ataupun yang asli. Perbaikan dapat dilakukan melalui usaha yang lebih keras dan lama. Genggaman yang terlalu kuat pada alat tulis, menghasilkan tulisan yang miring, namun ejaan tidak terganggu. Kecepatan dalam menulis juga rendah.
c.                   Spatial Dysgraphia
Disgrafia spasial terjadi karena siswa tidak mengerti tentang spasi (jarak tulisan). Tulisan terkadang tidak terbaca baik setelah disalin atau asli, tetapi cara memegang alat tulis dan ejaan tidak terganggu. Siswa dengan disgrafia spasial harus berjuang keras untuk menulis dengan jarak antar kata dan tidak melewati batas garis.
d.                  Phonological Dysgraphia
Disgrafia fonologi adalah gangguan menulis ejaan yang buruk dan berantakan. Fonem tidak dapat dihafalkan, hal tersebut menjadi kendala terbesar bagi anak dengan disgrafia fonologi.
e.                   Lexical Dysgraphia
Karakteristik dari disgrafia lexical adalah gangguan pada ejaan normal pada pola tertentu yang hasilnya tidak teratur. Hal ini terjadi paling umum pada bahasa Inggris dan Prancis, karena bahasanya kurang fonetik dibandingkan dengan bahasa lain. Namun, bentuk disgrafia ini jarang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar